Jumat, 31 Mei 2019

KITAB MANAQIB YEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI Qoddasallohu Sirruhu

KITAB MANAQIB YEIKH 'ABDUL QODIR AL JAILANI Qoddasallohu Sirruhu

Untuk Kalangan Thoriiqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah


KITAB MANAQIB YEIKH 'ABDUL QODIR AL JAILANI RA.


( PEMBUKAAN MANQOBAH )

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۞ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوا يَتَّقُوْنَۗ ۞ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِي الْـحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Bismillaahir rohmaanir roohim.
Alaa inna Auliyaa'alloohi laa khoufun ‘alaihim wa laahum yahzanuun.
Alladziina aamanuu wakaanuu yattaquun.
Lahumul busyroo fil hayaatid dunyaa wa fiil aakhiroh,  laa tabdiila likalimaatillaah, dzaalika huwal fauzul ‘azhiim.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، وَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ ، اَمَّا بَعْدُ :

Bismillaahir rohmaanir roohim.
Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamin, wal ‘aaqibatu lill Muttaqiin, walaa ‘udwaana illaa 'alazh zhoolimiin, wash sholaatu was salaamu ‘alaa Sayidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin,
Ammaa ba’du:

Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Puji bagi Alloh pencipta Semesta alam. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa sallamberserta keluarganya, sahabatnya serta 'Awliya Alloh dan para pengikutnya sampai hari akhir.

Ini sekelumit manaqib Sulthon Awliya' Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, kutipan dari

kitab "Uquudul La Aali Fii Manaaqibil Jayli" dan

kitab "Tafriihul Khootir Fii Manaaqibisy Syaikhi Abdul Qodir"

Semoga dengan dibacakan manaqib ini, Alloh  Subhanahu Wa Ta’alamelimpahkan keberkahannya kepada kita sekalian, terutama kepada Shohibul Hajat (…....................................................................................................…)

Dimudahkan rizki yang halal, dijauhkan dari malapetaka dunia dan akhirat, diterima segala niat dan maksud kita, dimudahkan urusan kita yang berhubungan dengan dunia dan akhirat,

Amiin Yaa Robbal ‘aalamiin.

Adapun diantara manaqib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani sebagai berikut :

(MUHARROM)

Manqobah Ke-39 :
Setiap Datang Tahun Baru, Memberitahu Kepada Syaikh Abdul Qodir Peristiwa Yang Akan Terjadi Pada Tahun Itu

Diriwayatkan di dalam kitab "Bahjatul Asror" bahwa Syaikh ‘Abdul Qodir pada suatu saat terbang melayang-layang diatas ribuan manusia di majlis pengajian yang beliau pimpin, beliau Bersabda:

"Tiada terbit matahari melainkan mengucapkan salam kepadaku, pada setiap datang tahun selalu memberi salam kepadaku, dan memberitahukan yang akan terjadi pada tahun itu. Pada setiap datang bulan, memberi salam kepadaku dan Menceritakan apa yang terjadi pada bulan itu. Demikian Pula setiap datang minggu dan hari, minggu dan hari itu memberi salam kepadaku dan memberitahukan yang akan terjadi pada minggu dan hari itu. Demi Dzat Alloh Yang Maha Mulia, orang-orang yang suka dan duka semuanya itu diberitahukan kepadaku.

Pandangan mataku selalu di Lauhil Mahfud dan aku tenggelam dalam lautan Ilmu Alloh dan lautan musyahadah, akulah yang menjadi Hujjah Alloh, akulah yang menjadi pengganti RosulullohSholallohu alaihi wa sallam. Akulah yang menjadi pewarisnya dibumi. Manusia ada gurunya, malaikat ada gurunya, jin ada gurunya, aku guru semuanya.”

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-40 :
Abdul Qodir Diberi Buku Untuk Mencatat Murid-Muridnya Sampai Hari Qiamat

Diriwayatkan di dalam kitab "Bahjatul Asror", Syaikh ‘Abdul Qodir pernah berkata : “Aku diberi sebuah buku yang luasnya sejauh mata memandang untuk menuliskan nama-nama muridku sampai hari kiamat. Semua murid itu telah Alloh berikan Kepadaku dan telah menjadi milikku. Aku pernah bertanya Kepada malakul Malik, “Apakah ada dalam neraka, muridku dan sahabat-ku ?” Malakul Malik menjawab: “tidak ada.”

Syaikh berkata : "Aku bersumpah, demi kemuliaan Tuhanku. Tanganku atas murid-muridku seperti langit menutup bumi. Andaikan murid-muridku itu buruk, maka akulah yang baik. Dan aku bersumpah, demi Ke-Agungan dan Kemuliaan Tuhanku, dua telapak kakiku tidak akan bergeser dihadapan Tuhan kecuali sudah mendapat keputusan bahwa aku bersama-sama muridku yang masuk surga

Lebih lanjut beliau bersabda : “Tanganku tidak akan lepas dari kepala murid-muridku, walaupun aku sedang ada di timur dan muridku ada di barat, lalu muridku itu tersingkap auratnya, maka tanganku akan segera menutupinya. Demi Keagungan dan Kemuliaan Tuhanku, pada hari qiamat aku akan berdiri tegak di hadapan gerbang pintu neraka, sekali lagi aku tidak akan bergeser sebelum muridku masuk surga karena Alloh Yang Maha Kuasa telah menjanjikanku bahwa murid-muridku tidak akan dimasukan ke dalam neraka.  Barang siapa yang berguru serta mahabbah kepadaku, pasti aku menghadap kepadanya, bahwa mereka dan Malaikat Munkar Nakir telah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti murid-muridku.”

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(SHOFAR)

Manqobah Ke-24 :
Masyarakat Yang Menderita Penyakit Tho’un, Sembuh Dengan Rumput Dan Air Madrosah Syaikh Abdul Qodir

Para Ulama meriwayatkan, pernah terjadi pada jaman Syaikh ‘Abdul Qodir bangkit wabah penyakit tho’un sehingga berjuta orang meninggal dunia. Masyarakat beduyun-duyun datang meminta pertolongan kepada Syaikh, beliau mengumumkan kepada mereka : "Barangsiapa makan rerumputan Madrosahku, Alloh akan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.”

Karena terlalu banyak yang sakit, rerumputan itu habis, Syaikh mengumumkan lagi : “Barangsiapa yang meminum air Madrosahku akan segera disembuhkan Alloh Subhanahu WaTa’ala.” Mendengar Pengumuman itu, para penderita penyakit beramai-ramai minum air madrosah Syaikh, seketika itu juga mereka menjadi sembuh kembali dan penyakit tho’un pun lenyap.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqodah Ke-27 :
Syaikh ‘Abdul Qodir Membeli Empat Puluh Ekor Kuda Untuk Orang Sakit

Diriwayatkan, ada ada seseorang yang bertempat tinggal agak jauh dari kota Baghdad. Terdengar berita tentang kemasyhuran Syaikh ‘Abdul Qodir, ia pun bermaksud akan berziarah kepada Syaikh karena terdorong rasa Mahabbah. Setibanya dilokasi kediaman Syaikh, ia keheranan melihat istal kudanya megah Sekali, lantai istalnya dibuat dari emas dan perak, pelananya dibuat dari sutra dewangga, kudanya empat puluh ekor, semuanya bagus-bagus dan mulus-mulus, tiada bandinganya.

Terlintas dalam hatinya prasangka yang kurang baik : “Katanya ia seorang Wali, tetapi mengapa kenyataannya seorang pecinta dunia. Mana ada seorang wali mencintai dunia ? tidak pantas diberi gelar Waliyulloh.” Niat semula untuk bertemu  dengan Syaikh, seketika itu juga dibatalkan, lalu ia bertamu kepada orang lain dikota itu.

Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit sangat parah, tidak ada seorang dokter pun dikota itu yang mampu mengobatinya. Ada seorang paranormal beragama Nasroni yang memberi petunjuk, “Penyakitnya itu tidak bisa sembuh kecuali dengan hati kuda, dengan syarat kudanya harus seperti yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qodir, beliau seorang yang sangat dermawan, pasti mau menolong

Setiap hari disembelih seekor untuk diambil hatinya selama empat puluh hari, sehingga empat puluh kuda habis semuanya. Dengan empat puluh kuda itu, sembuhlah orang itu seperti sedia kala. Dengan rasa syukur yang tiada terhingga diiringi rasa malu, ia datang menghadap Syaikh mohon ampunan. Syaikh Berkata : “Untuk kamu ketahui, sejumlah kuda yang ku beli itu sebenarnya untukmu, karena aku tahu kamu akan mendapat musibah, menderita penyakit yang tidak ada obatnya kecuali harus dengan empat puluh hati kuda. Aku tahu maksudmu semula, kamu datang mau berziarah kepadaku semata-mata didorong rasa cinta kepadaku, namun kamu berprasangka buruk kepadaku sehingga kamu bertamu kepada orang lain”. Setelah mendengar penjelasan itu, ia merasa bersalah dan segera bertobat, lalu Syaikh meluruskan niatnya dan memantapkan keyakinannya. Dan paranormal itu masuk Islam.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(ROBI’UL AWAL)

Manqobah Ke-3 :
Kecerdasan Syaikh Abdul Qodir Waktu Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu, Syaikh ‘Abdul Qodir berusaha memilih guru-guru yang ahli dalam bidangnya, beliau mempelajari dan memperdalam bermacam-macam disiplin ilmu.

Seluruh gurunya mengungkapkan tentang kecerdasannya. Beliau belajar Ilmu Fiqih dari Abil Wafa ‘Ali bin ‘Aqil, Abi ‘Ali Khothob al-Kalwadani dan Abi Husein Muhammad ibnil Qodli. Ilmu adab dari Abi Zakaria at-Tabrizi. Ilmu Thoriqot dari Syaikh Abil Khoir Hammad bin Muslim bin Darwatid Dibas. Shufiahnya dari Abi Said Al Mubarok.

Sejak itu beliau terus-menerus meraih pangkat yang sempurna berkat Rohmat Alloh Yang Maha Esa, sehingga beliau menduduki pangkat tertinggi dalam kewalian. Dengan semangat juang yang tinggi disertai tekad yang kuat beliau berusaha mengekang serta mengendalikan hawa nafsu. Beliau berkholwat di Irak dua puluh lima Tahun lamanya tidak berjumpa dengan orang.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-4 :
Budi Pekerti Syaikh Abdul Qodir

Syaikh Abdul Qodir Al Jailani sangat takut kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala, oleh karena itu beliau mudah terharu serta mudah mengeluarkan air mata. Doanya diQobul Alloh. Beliau seorang dermawan, jauh dari keburukan dan selalu dekat dengan kebaikan. Berani dan kokoh dalam mempertahankan hak, tegas dalam menghadapi kemungkaran. Pantang menolak orang yang meminta-minta walupun yang dimintanya pakaian yang sedang beliau pakai. Tidak marah karena hawa nafsu, tidak memberi  pertolongan yang bukan karena Alloh.

Beliau diwarisi Akhlak Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam, Tampan Nabi Yusuf ‘Alaihis sallam, Benar Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodliyalloohu 'anhu, Adil Umar bin Khothob Rodliyalloohu 'anhu, Hilim Sayyidina Utsman bin Affan Rodliyalloohu 'anhu, Kegagahan serta keberanian sayidina Ali bin Abi Tholib karromallohu Wajhah.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(ROBI’UTS TSANI)

Manqobah Ke-51 :
Wasiat Syaikh Abdul Qodir Kepada Putranya Abdul Rozak

Syaikh Abdul Qodir telah berwasiat kepada putranya yang bernama Abdul Rozak dengan beberapa wasiat, diantaranya :

“Wahai anakku, semoga Alloh melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya kepadamu dan kepada segenap kaum muslimin. Wahai anakku, bertawakallah kepada Alloh, pegang syara’ dan laksanakan, dan pelihara batas-batasnya. Ketahui bahwa Thoriqotku dibangun berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. Hendaknya kamu berjiwa bersih, dermawan, murah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain dengan jalan kebaikan. Jangan keras hati atau berlaku tidak sopan. Sebaiknya kamu bersikap sabar dan tabah menghadapi segala ujian dan cobaan. Hendaknya kamu mengampuni kesalahan orang lain dan bersikap hormat pada sesama ikhwan dan semua fakir miskin.

Perihara olehmu kehormatan guru-guru, dan berbuat baiklah kepada orang lain, beri nasihat yang baik kepada orang-orang besar tingkat kedudukanya, demikian pula bagi masyarakat kecil. Jangan suka berbantah-bantahan dengan orang lain kecuali dalam masalah agama.

Ketahuilah bahwa hakikat kemiskinan adalah perlu kepada orang lain, dan hakikat tidak perlu kepada orang lain. Tashowwuf dicapai dengan jalan lapar dan pantangan dari hal-hal yang disukai dan dihalalkan, dan tidak banyak bicara, jika kamu berhadapan dengan orang faqir, jangan dimulaii dengan ilmu, sebab akan menjauh denganmu. Sebaiknya, hendaklah dimulai dengan kasih sayang, bersikap lembutlah terhadapnya, membuatnya lebih dekat padamu.

Tashowwuf dibangun diatas delapan hal yakni : 1. Dermawan, 2. Ridlo,  3. Sabar,  4.  ‘Isyaroh,   5.  Mengembara, 6. Berbusana Bulu, 7. Pecinta Alam, dan Faqir.  Dermawan Nabi Ibrohim ‘Alaihis sallam,Ridlo Nabi Ishaq ‘Alaihis sallam, Sabar Nabi Ayyub ‘Alaihis sallam, Isyarohnya Nabi Zakaria ‘Alaihis sallam, Mengembara seperti Nabi Yusuf ‘Alaihis sallam, Berbusana wool seperti Nabi Yahya ‘Alaihis sallam, Pecinta Alam Nabi Isa ‘Alaihis sallam, dan kefakiran Nabi  Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam.

Bila kamu berkumpul bersama orang kaya, perlihatkan kegagahanmu, kerendahan hati bila berkumpul dengan orang miskin. Hendaknya kamu ikhlas dalam setiap perbuatan. Seharusnya selalu mengingat Alloh. Jangan berprasangka buruk Kepada Alloh. Harusnya berserah diri kepada Alloh dalam segala perbuatan. Jangan menggantungkan diri kepada orang lain, walaupun keluarga walaupun teman sejawat. Layani faqir miskin dengan Tigahal : pertama, Tawadlu’, kedua, Budi Pekerti, dan ketiga, Kebeningan Hati.

Perhatikan olehmu bahwa yang paling dekat kepada Alloh ialah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan amal yang paling utama ialah memelihara hati dari melirik kepada selain Alloh.

Bila bergaul dengan orang miskin, berwasiatlah dengan  kebenaran dan kesabaran. Cukup bagimu dari dunia itu dua hal : pertama, bergaul dengan orang miskin, kedua menghormati wali. Selain dari pada Alloh, segala sesuatu itu jangan dipandang cukup, gagah kepada yang dibawahmu adalah pengecut, gagah terhadap sesama adalah lemah dan gagah kepada orang yang lebih tinggi kedudukanya adalah sombong. Ketahuilah bahwa Tashowwuf dan fakir merupakan Dwi Tunggall kebenaran yang hakiki, bukan main-main, oleh karena itu jangan dicampur dengan main-main".

Demikian wasiat ayah, semoga Alloh melimpahkan Taufiq dan hidayahnya kepadamu dan kepada murid-murid, atau kepada siapapun yang mendengar wasiat ini, semoga dapat mengamalkanya dengan syafa’at junjungan kita Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa sallam,

amin ya Robbal ‘alamin.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-53 :
Syaikh Abdul Qodir Wafat

Menjelang akhir hayatnya, Malakul Ajro’il datang mengunjungi Syaikh dikala matahari akan terbenam membawa surat dari Alloh Subhanahu WTa’ala untuk Syaikh dengan alamat sebagai berikut :

يَصِلُ هَذَا الْمَكْتُوْبُ مِنَ الْمُحِبِّ إِلٰى الْمَحْبُوْبِ

"Yashilu hadzal maktubi minal muhibbi ilal mahbubi"
(Surat ini dari Dzat Yang Maha Pengasih disampaikan kepada Wali yang dikasihi).

Kemudian surat tersebut diterima oleh  putranya yang bernama Sayyid Abdul Wahhab. Setelah diterima, masuklah ia bersama Malakul Ajro’il. Sebelum surat dihanturkan kepada Syaikh, beliau sudah mengerti bahwa beliau akan berpindah ke alam ‘uluwi, alam tinggi yakni meninggal Dunia.

Syaikh bersabda kepada putra-putranya : “Jangan mendekat, karena lahiriyahku bersama-sama dengan kamu, sedang bathiniyahku bersama selain kamu, dan perluas ruangan ini karena hadir selain dari padamu, tunjukan sopan santunmu”.

Siang dan malam, tak henti-hentinya beliau mengucapkan :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ غَفَرَاللهُ لِى وَلَكُمْ تَابَ اللهُ عَلَيَّ وَعَلَيْكُمُ بِسْمِ اللهِ غَيْرِ مُوْدِعِيْنَ وَ ادْخُلُوْا فِى صَفِّ الْأَوَّالِ إِذً اَجِيْءُ اِلَيْكُمْ رِفْقًا رِفْقًا وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ اَجِيْءُ اِلَيْكُمْ
قِفُوْا اَتَاهُ الْحَقُّ وَسَكَرَةُ الْمَوْتِ

"Wa’alaikumus salaam wa rohmatullohi wa barokatuh. Ghofarolloohu lii walakum, taaballohu ‘alayya wa ‘alaikum, Bismillahi ghoyri muudiinaWadkhulu fi shoffil awwali, idzan ajii’u ilaykum, rifqon rifqon wa ‘alaikumus salaamu ajii’u ilaykum,Qifuu ataahul haqqu wa sakarotul mawti.

Beliau berpesan : “Jangan ada yang menanyakan apapun kepadaku setelah aku bolak-balik dalam lautan Ilmu Alloh”, lalu membaca :

اِسْتَعَنْتُ بِلَا اِلٰـهَ اِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىٰ وَالْـحَيِّ الَّذِيْ لاَ  يَخْشَ الْفَوْتُ  سُبْحَانَ مَنْ تَعَزَّزَ بِالْقُدْرَةِ وَقَهَّرَ عِبَادَهُ بِ الْمَوْتِ لَا اِلٰـهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ  تَعَزَّزَ  تَعَزَّزَ،
 اَللهُ ، اَللهُ ، اللهُ ،

Ista’antu bilaa ilaaha illallohu, Subhaanahu wa ta’aala wal hayyil ladzi laa yakhsal fawtu, Subhana man ta’azzaza bil qudroti waqoharo ibaadahu bil mawti laa ilalaha illallohu Muhammadur Rosulullahi, ta’azzaza, ta ‘azzaza Allohu Allohu Allohu.

Terdengar suara nyaring, lalu suaranya lembut tidak terdengar lagi, dan meninggallah Ridwanullohu 'alaihi.

Syaikh wafat pada malam Senin ba’da ‘Isya, tanggal 11 Robi’ul Akhir, Tahun 561 Hiriyah (1166 Masehi) pada usia 91 Tahun.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(JUMADIL ULA)

Manqobah Ke-35 :
Syaikh Ahmad Kanji Menjadi Murid Syaikh Abdul Qodir  Atas Petunjuk Gurunya

Diriwayatkan, pada suatu hari Syaikh Ahmad kanji sedang mengambil wudlu, terlintas dalam hatinya bahwa thoriqot Syaikh Abdul Qodir itu lebih disukai dari pada thoriqot-thoriqot lainnya. Gurunya yaitu Syaikh Abi Ishak Maghribi mengetahui pula apa yang terlintas dalam hati muridnya, lalu beliau bertanya : “Apakah kamu mengetahui kedudukan Syaikh Abdul Qodir ?” Dijawab oleh Syaikh Ahmad Kanji : “Saya tidak tahu”. Lalu gurunya menjelaskan : “Syaikh Abdul Qodir itu memiliki dua belas sifat. Kalau lautan dijadikan tintanya dan pepohonan dijadikan penanya, manusia, malaikat dan jin sebagai penulisnya, maka tidak akan mampu menulis satu sifat pun”.

Mendengar penjelasan dari gurunya itu, ia makin bertambah mahabbah kepada Syaikh Abdul Qodir, hatinya berbisik : “Satu harapanku, tidak meninggal dunia sebelum aku menjadi muridnya”.

Kemudian dengan kemauan yang keras berangkatlah ia menuju kota Baghdad. Setibanya disebuah gunung di wilayah Ajmir yang dibawahnya mengalir sungai, ia mengambil air wudlu untuk sholat. Didalam keadaan antara tidur dan tidak, ia dikunjungi Syaikh Abdul Qodir, beliau membawa mahkota merah dan sorban hijau. Syaikh Ahmad Kanji berdiri menghormati kedatangannya : “Marikesini lebih dekat”, kata beliau sambil mengenakan mahkota merah dan sorban hijau diatas kepalaku, lalu bersabda : "Wahai Ahmad Kanji, sekarang kamu sudah menjadi muridku dan menjadi anakku dan menjadi Rijalulloh (laki-laki Alloh)”. Lalu beliau menghilang, mahkota dan sorban sudah melekat terpakai diatas kepalaku, lalu ia sujud syukur atas nikmat Alloh yang telah diterimanya.

Kemudian ia pulang kegurunya sambil memperlihatkan mahkota merah dan sorban hijau hadiah dari Syaikh Abdul Qodir dan menceritakan peristiwa yang di alaminya. Gurunya berkata : “Wahai Ahmad Kanji, mahkota dan sorban itu adalah khirqoh bagimu, kamu sangat dikasihi Syaikh Abdul Qodir, sekarang berdirilah dengan tegak, kamu telah menjadi wali yang utama". Dengan mengharap keberkahannya, Syaikh Abi Ishak Maghribi memakai mahkota dan sorban itu dikepalanya, lalu diserahkan kembali kepada Syaikh Ahmad Kanji.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah ke-36 :
Syaikh Ahmad Kanji Menjunjung Kayu Bakar Di Atas Kepalanya

Pekerjaan Syaikh Ahmad kanji adalah mencari kayu bakar untuk memasak roti bagi para faqir. Setelah mengenakan mahkota dari Sayyid Abdul Qodir, gurunya bekata : “Sekarang engkau tidak layak mencari kayu bakar sebab kepalamu sudah dimahkotai dengan mahkota yang mulia”. Namun Syaikh Ahmad  Kanji memohon izin dari gurunya untuk mencari kayu bakar. Ujar gurunya: “Ya kalau begitu, terserah kamu". Ia pun berangkat ke gunung mengumpulkan kayu bakar lalu diikat.

Waktu akan dipikul, kayu bakar itu melayang diatas kepala Syaikh Ahmad Kanji kira-kira sehasta dari kepalanya. Lantas Syaikh Ahmad Kanji pulang ke gurunya. Kayu bakar terus melayang mengikuti Syaikh Ahmad.

Setibanya ditempat Syaikh Abi Ishak Maghribi, gurunya itu berkata : “Nah Syaikh Ahmad, apa kataku, kamu tidak pantas lagi memikul kayu bakar, sebab sudah ditempati mahkota dan sorban mulia. Mulai sekarang, sudahlah jangan mencari kayu bakar. Engkau oleh Sayyid Abdul Qodir sudah ditunjuk ke pangkat Rijalulloh”.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(JUMADITS TSANIYAH)

Manqobah Ke-15 :
Nama Syaikh Abdul Qodir Seperti Ismul A’zhom

Diriwayatkan di dalam kitab Haqo’iqul Haqo’iq, ada seorang perempuan datang menghadap Syaikh Abdul Qodir mengadukan hal anaknya, “Saya mempunyai seorang anak, kini ia hilang tenggelam ke dalam laut, saya yakin tuan Syaikh bisa mengembalikan anak saya hidup kembali, saya mohon pertolongan Tuan”. Mendengar perempun itu, Syaikh berkata : “Sekarang kamu pulang, anakmu sudah ada di rumahmu”. Perempuan itu pulang dengan tergesa-gesa, setibanya dirumah, anaknya itu belum ada.

Segera ia menghadap lagi kepada Syaikh sambil menangis melaporkan bahwa anaknya itu belum ada. Syaikh berkata :“Sekarang anakmu sudah ada di rumahmu, sebaiknya kamu segera pulang". Perasaan rindu pada anaknya menggebu-gebu, namun setibanya di rumah, anaknya belum ada juga.

Dengan penuh keyakinan ia datang lagi menghadap Syaikh sambil menangis mohon anaknya hidup kembali. Kemudian Syaikh menundukkan kepalanya dan tegak kembali sambil berkata : “Sekarang tidak akan salah lagi, pasti anakmu sudah ada dirumah“. Dengan penuh harapan ia pulang menuju rumahnya, anaknya sudah ada berkat karomah Syaikh Abdul Qodir.

Mengenai peristiwa ini Syaikh munajat kepada Alloh : “Yaa Alloh, Engkau Maha Kuasa menciptakan mahluk dengan mudah, demikian pula halnya pada waktu mengumpulkan mahluk dipadang mahsyar hanya dalam tempo yang singkat sudah berkumpul, mengapa hanya menghidupkan seorang saja sampai Tiga kali, hamba malu oleh perempuan itu. Dan apa hikmahnya?”.  Alloh Subhanahu wta’ala menjawab :“Semua ucapanmu kepada perempuan itu tidak salah, pertama kali kamu mengatakan kepada perempuan itu anaknya sudah ada dirumah, malaikat baru mengumpulkan tulang belulangnya yang berserakan, dan yang kedua kalinya seluruh anggota tubuhnya baru utuh kembali dan dihidupkan, ketiga kalinya si anak di angkat dari dasar laut dikembalikan kerumahnya”.

Alloh berfirman : "Wahai Abdul Qodir! Kamu jangan kecewa. Sekarang silahkan kamu minta, pasti kuberi”.  Spontan Syaikh merebahkan kepalanya bersujud sambil berkata : “Engkau Kholiq, apa saja yang Engkau berikan akan kuterima". Lalu Alloh memberi hadiah kepada Syaikh dan berfirman : “Barang siapa melihatmu pada hari Jum’at, ia akan kujadikan wali, dan kalau kamu melihat tanah tentu akan menjadi emas”. Syaikh berkata : “Ya Alloh, semua pemberian-Mu kurang begitu manfaat bagiku, aku mohon karuniamu yang lebih bermanfaat dan lebih mulia setelah aku tiada". Alloh Subhanahu wata’ala berfirman : “Namamu dibuat seperti nama-Ku, barang siapa menyebut namamu, pahalanya sama dengan yang menyebut nama-Ku”.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-16 :
Syaikh Abdul Qodir Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati.

Diriwayatkan di dalam kitab Asrorut Tholibin, Syaikh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu tempat, bertemu dengan seorang umat Islam sedang berdebat dengan seorang umat Nasroni. Beliau menyikapi dengan seksama dan menanyakan apa yang menjadi sebab perdebatan itu, kata orang Muslim : "Kami sedang membangga-banggakan Nabi kami masing-masing, dan saya berkata padanya, Nabi Muhammad-lah yang paling utama". Kata orang Nasrani : "Nabi Isa-lah yamg paling sempurna". Lalu Syekh bertanya kepada orang Nasroni : "Apa yang menjadi dasar kamu mengatakan bahwa Nabi Isa-lah lebih sempurna daripada Nabi Muhammad ?". Orang Nasrani menjawab : "Nabi Isa bisa menghidupkan orang yang sudah mati". Syekh berkata lagi : "Kamu tahu aku bukan Nabi, aku hanya pengikut Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam ? Kalau aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kamu bersedia untuk beriman kepada Nabi Muhammad sholallohu alahi wa sallam ?". "Baik, saya mau beriman dan masuk agama Islam", jawab orang Nasroni itu. "Kalau begitu, mari kita mencari kuburan". Lanjut Syaikh.

Setelah mereka menemukan sebuah kuburan tua, sudah berusia lima ratus tahun, lalu Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya : "Nabi Isa kalau menghidupkan orang yang sudah mati bagaimana caranya?". Orang Nasroni menjawab : "Beliau cukup dengan mengucapkan QUM BIIDZNILLAH (Bangunlah dengan Izin Alloh)". "Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan baik-baik !", kata Syekh, lalu beliau menghadap ke kuburan tadi sambil mengucapkan : "QUM BIIDZNII (Bangunlah dengan izinku)". Kuburan terbelah dua, keluarlah mayat itu sambil bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya ia seorang penyanyi. Melihat dan menyaksikan peristiwa tersebut, orang Nasroni itu berubah keyakinan menjadi beriman kepada Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam dan masuk agama Islam.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-17 :
Syekh Abdul Qodir Merebut Ruh Dari Malakul Maut

Abu Abbas Ahmad Rifa'i meriwayatkan : Ada seorang pelayan Syaikh Abdul Qodir yang meninggal dunia, kemudian isterinya datang menghadap beliau mengadukan halnya sambil menangis. Karena ratapnya itu, Syaikh menundukkan kepala bertawajjuh kepada Alloh, ketika itulah beliau melihat malakulmaut sedang kelangit membawa keranjang maknawi penuh dengan ruh-ruh manusia yang baru selesai dicabut pada hari itu. Kemudian beliau meminta kepada malakul maut supaya menyerahkan nyawa muridnya. Permintaan itu ditolak oleh malakulmaut. Lalu beliau merebut keranjang maknawi itu, dan tumpahlah semua nyawa yang ada di dalamnya dan kembali ke jasadnya masing-masing.

Menghadapi kejadian ini malakul maut unjuk pihatur kepada Alloh Subhanahuwta’ala : "Ya Alloh, Engkau Maha Mengetahui tentang kekasih-Mu dan wali-Mu Abdul Qodir". Alloh berfirman : "Memang benar, Abdul Qodir itu kekasih-Ku, karena tadi nyawa pelayannya tidak kamu berikan, akibatnya seluruh ruh itu terlepas, dan sekarang kamu menyesal karena kamu tidak memberikannya".

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(ROJAB)

Manqobah Ke-11 :
Telapak Kaki Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa sallam Memijak Pundak Syaikh Abdul Qodir Pada Malam Mi'roj

Syaikh Rosyid Al-Junaidi meriwayatkan, pada malam Mi'roj, malaikat datang menghadap Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam membawa Buroq. Kakinya bercahaya laksana bulan dan paku telapak kakinya bersinar seperti sinar bintang.

Dikala Buroq itu dihadapkan kepada Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam ia tidak bisa berdiam dan kakinya bergoyang-goyang seperti. Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. bertanya "Mengapa kamu tidak diam? Apa kamu tidak mau kukendarai ?". Buroq menjawab: "Demi nyawa hamba yang menjadi penebusnya, hamba tidak menolak, namun ada satu permohonan, yaitu ketika engkau, Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam akan masuk surga, tidak menunggangi yang lain".Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam. menjawab: "Baik, permintaanmu akan kukabulkan".

Buroq itu masih mengajukan permohonannya: "Hendaknya tangan yang mulia memegang pundak hamba sebagai tanda bukti nanti pada hari kiamat". Lalu dipegangnya pundak Buroq itu oleh Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. Karena gejolak rasa gembira, jasad Buroq itu tidak cukup untuk menampung ruhnya, badannya menjadi empat puluhhasta tingginya. Rosululloh terpaku sebentar melihat badan Buroq itu menjadi tinggi, terpaksa Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam memerlukan tangga.

Saat itu juga, datanglah Ghoutsul A'zhom Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jailani bertekuk lutut di hadapan Roasululloh Sholallohualaihi wa sallam sambil berkata : "Silahkan pundak hamba dijadikan tangga". Rosululloh sholallohu alaihi wa sallammemijakkan kakinya pada pundak Syaikh, dan lalu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam naik buroq. Di saat itu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam bersabda : "Sebagaimana telapak kakiku menginjak pundakmu, maka telapak kakimu akan menginjak pundak para waliyulloh".

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(SYA'BAN)

Manqobah Ke-7 :
Kebiasaan Syaikh Abdul Qodir Setiap Malam Digunakan Untuk Ibadah Sholat Dan Dzikir

Syaikh Abu Abdillah Muhammad al-Hirowi meriwayatkan : "Aku berkhidmat mendampingi Syaikh Abdul Qodir selama empat puluh Tahun. Selama itu aku menyaksikan beliau sholat Shubuh dengan wudlu 'Isya, Seusai sholat lalu Syaikh masuk kholwat sampai waktu sholat Shubuh. Para pejabat pemerintah banyak yang datang untuk bersilaturrahmi, tapi kalau datangnya malam hari tidak bisa bertemu dengan beliau, terpaksa mereka menunggu sampai waktu Shubuh.

Pada suatu malam saya mendampingi beliau, sekejap pun aku tidak tidur, aku menyaksikan sejak sore harinya beliau melaksanakan sholat-sholat dan pada malam harinya dilanjutkan dengan berzikir melewati sepertiga malam lalu beliau membaca : 

اَلْمُحِيْطُ اَلرَّبُّ اَلشَّهِيْدُ اَلْحَسِيْبُ اَلْفَعَّالُ اَلْـخَلَّاقُ اَلْـخَالِقُ اَلْبَارِئُ اَلْمُصَوِّرُ

Al Muhiithu, Ar Robbu, Asy Syahiidu, Al Hasibu, Al Fa’aalu, Al Khollaaqu, Al Khooliqu, Al Baari’u, Al Mushowwiru,

Tampak badannya mengecil sampai kecil sekali, lalu badannya membesar lagi dan meninggi sampai tinggi sekali hingga tidak nampak dari pandanganku. Kemudian beliau muncul lagi berdiri melakukan sholat dan sujudnya lama sekali.

Demikianlah beliau beribadah semalam suntuk, setelah dua pertiga malam beliau menghadap kiblat sambil membaca doa-doa, tiba-tiba terpancar sinar menyoroti beliau sehingga badannya diliputi sinar dan tidak henti-hentinya terdengar suara yang mengucapkan salam sampai terbit fajar.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(ROMADLON)

Manqobah Ke-2:
Beberapa Macam Tanda Kemuliaan Pada Waktu Syaikh Abdul Qodir Dilahirkan

Sayid Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani dilahirkan di Naif Jailan Irak pada tanggal 1 Romadlon 470 Hijriyah, bertepatan dengan 1077 Masehi. Beliau wafat pada tanggal 11 Rabiul Akhir 561 Hijriyah, bertepatan dengan 1166 Masehi, pada usia 91 tahun. Beliau dikebumikan di Baghdad, Irak.

Pada malam Syaikh di lahirkan ada limakaromah :

1.        Ayahnya, yaitu Abi Sholih Musa Janaki, pada malam hari bermimpi dikunjungi Rosululloh Sholallohu alaihiwa sallam diiringi para Sahabat dan Imam Mujtahidin dan para wali. Rosululloh bersabda kepada Abi Sholih Musa Janaki : "Wahai Abi Sholih, engkau akan diberi putra oleh Alloh. Putramu akan mendapat kedudukan yang tinggi di atas para wali sebagaimana kedudukanku diatas para nabi, dan anakmu itu termasuk anakku juga, kesayanganku dan kesayangan Alloh".

2.        Setelah Rosululloh Sholallohu alaihiwa sallam, para Nabi yang lainpun datang menghibur ayah Syaikh Abdul Qodir : "Engkau akan mempunyai putra yang akan menjadi Sulthonul Auliya, seluruh wali Alloh selain Imam Ma'shum, di bawah pimpinannya".

3.        Syaikh Abdul Qodir sejak dilahirkan pada siang hari bulan Romadlon menolak untuk menyusu. Menyusunya setelah waktu berbuka puasa.

4.        Di belakang pundak Syaikh Abdul Qodir nampak bekas telapak kaki Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallamketika beliau akan menunggangi Buroq pada malam Mi'raj.

5.        Beliau diliputi cahaya sehingga tidak seorang pun yang mampu melihatnya. Sedang usia ibunya waktu itu 60 tahun, ini juga sesuatu hal yang luar biasa.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-32 :
Syaikh Abdul Qodir Berbuka Puasa Di Rumah Murid-Muridnya Pada Satu Waktu Yang Bersamaan

Diriwayatkan, pada suatu hari pada bulan Romadlon, Syaikh ‘Abdul Qodir diundang berbuka puasa oleh murid-muridnya sebanyak tujuh puluh orang di rumahnya masing-masing. Mereka berkeinginan agar Syaikh berbuka puasa di rumahnya. Mereka tidak mengetahui bahwa masing-masing dari mereka mengundang Syaikh untuk berbuka puasa pada waktu yang bersamaan.

Tiba waktunya berbuka puasa, Syaikh berbuka puasa di rumah beliau, detik itu pula rumah muridnya yang tujuh puluhorang itu masing-masing dikunjunginya dan berbuka puasa tepat pada waktu yang sama.

Peristiwa ini di kota Baghdad sudah masyhur di kalangan masyarakat dan sudah menjadi buah bibir masyarakat dalam setiap pembicaraan dan pertemuan.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(SYAWAL)

Manqobah Ke-22 :
Syaikh Abdul Qodir Setiap Tahun Membebaskan Hamba Sahaya Dari Perbudakan, Serta Nilai Busana Yang Beliau Pakai

Sebagian kitab manaqib meriwayatkan, sudah menjadi tradisi bahwa setiap Hari Raya Syaikh ‘Abdul Qodir membeli beberapa hamba sahaya untu dimerdekakan dari belenggu perbudakan. Kemudian Syaikh mengantarkan mereka agar wushul kepada Alloh Subhanahu wata’ala.

Dan apabila Syaikh Abdul Qodir berpakaian, beliau memakai pakaian yang serba indah, bagus dan mahal harganya. Nilai kainnya seharga seharga 10(Sepuluh)dinar per elonya (0,688 m), dan tutup kepalanya seharga 70(Tujuh puluh) ribu dinar. Terompahnya diteratas intan berlian dan jamrud. Paku terompahnya terbuat dari perak.

Namun pakaian yang serba mewah itu bila ada orang yang memerlukannya, saat itu juga beliau berikan.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

Manqobah Ke-33:
Syaikh Abdul Qodir Menyelamatkan Muridnya, Seorang Wanita Dari Pengkhianatan Lelaki Jahat

Diriwayatkan, di kota Baghdad ada seorang wanita cantik. Sebelum ia menjadi murid Syaikh ‘Abdul Qodir, ada seorang lelaki fasik, hidung belang, dan tuna susila menaruh perhatian pada wanita itu, namun cintanya tidak dibalas. Lelaki itu pun tak henti-hentinya berusaha mencari jalan untuk melakukan niat jahatnya.

Pada suatu hari, wanita itu berangkat menuju sebuah gua di suatu gunung untuk berkholwat dengan tujuan ibadah. Tanpa ia ketahui bahwa ia sedang diintai oleh lelaki tadi. Ketika wanita itu tiba di dalam gua, si lelaki jahat itu masuk, dengan sekuat tenaga ia mau memperkosa wanita itu, wanita itu pun berusaha menghindar dari kejahatan lelaki tersebut sambil berteriak memanggil-manggil Syaikh Abdul Qodir : "Ya Syaikh Tsaqolain, Ya Ghoutsal A'zhom, Ya Syaikh Abdul Qodir, tolonglah saya!", demikianlah wanita itu bertawassul dan beristighotsah.

Waktu itu Syaikh sedang mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat di madrosahnya, lalu dilepasnya sepasang bakiak Syaikh, dilemparkan kearah gua dan tepat mengenai kepala lelaki jahat itu. Di kala laki-laki jahat itu akan melakukan aksinya, bertubi-tubi sepasang bakiak memukul, menampar lelaki itu dengan pukulan-pukulan yang mematikan dan seketika itu juga ia mati. Wanita itu segera mengambil sepasang bakiak milik Syaikh, lalu diserahkannya kepada Syaikh. Kemudian ia mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(DZULQO'DAH)

Manqobah Ke-31:
Syaikh Abdul Qodir Berziarah Ke Makam Rosululloh Saw Dan Mencium Tangan Beliau

Pada waktu Syaikh Abdul Qodir berziarah ke makam Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam di Madinah Munawwaroh, setibanya di sana beliau langsung masuk ke makam Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam yaitu Hujroh Syarifah. Selama empat puluh hari beliau bermukim di hadapan makam Rosululloh Sholallohualaihi wa sallam, kedua tangannya diletakkan pada dadanya sambil bermunajat mengharap Rohmat Alloh, menumpahkan isi hati nuraninya dengan makna dari bait dibawah ini :

ذُنُوْبِي كَمَوْجِ الْبَحْرِ بَلْ هِيَ اَكْثَرُ ۞ كَمِثْلِ الْجِبَالِ الشَّامِّ بَلْ هِيَ اَكْبَرُ

وَلَكِنَّهَا عِنْدَ الْكَرِيْمِ اِذَا عَفَا ۞ جُنَاحٌ مِنَ الْبُعُوْضِ بَلْ هِيَ اَصْغَرُ

dzunubi kamaujil bahri bal hiya aktsaru # kamitslil jibalis Syummi bal hiya akbaru

walakinnaha 'indal karimi idza 'afaa # janahum minal bu'uudhi bal hiya ashghoru

Artinya: "Besar dosaku, seperti gulungan ombak dilaut, bahkan lebih besar;

Tinggi, setinggi puncak gunung Syam, bahkan lebih tinggi lagi.

Namun bila daku Kau ampuni ringan dosaku; Seringan sayap nyamuk, kecil bahkan sekecil amat sangat".

Lalu beliau meneruskan munajat pengharapannya dengan bait dibawah ini:

فِي حَاَلِة الْبُعْدِ رُوْحِي كُنْتُ اُرْسِلُهَا ۞ تُقَبِّلُ الْأَرْضَ عَنِّي وَهِيَ نَائِبَتِي

وَهَذِهِ نَوْبَةُ الْأَشْبَاحِ قَدْ حَضَرَتْ ۞ فَامْدُدْ يَمِيْنَكَ كَي تَحْظَى بِهَا شَفَتِي

fii halatil bu'di ruuhii kuntu ursiluhaa # tuqobbilul ardho 'anni wahya naibaatii

Wahadzihi naubatul asybaahi qod hadhorot # Famdud yamiinaka kai tahzho bihaa syafatii

Artinya: "Kala jauh dari kekasih, ku utus roh pengganti diri, Ulurkan tanganmu kini kasih,

Kan kukecup sepuas hati, untuk terima syafaat kekasih".

Selesai beliau meluapkan isi hati nuraninya, tangan Rosululloh Sholallohualaihi wa sallam yang mulia terulur keluar lalu dipegang, diciumnya sepuas hati dan diletakkan pada ubun-ubun Syaikh.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(DZULHIJJAH)

Manqobah Ke-8 :
Berlaku Benar Adalah Dasar Hidup Syaikh Abdul Qodir

Suatu hari Syaikh Abdul Qodir ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah pedoman hidup tuan?".

عَلَى الصِّدْقِ وَمَا كَذِبْتُ قَطٌّ

'Alas shidqi wa maa kadzibtu qoth-thu

Artinya : "Benar pantang dusta."

Diriwayatkan waktu Syaikh sampai usia delapan belas Tahun, beliau pergi ke padang rumput mau menggembalakan seekor unta. Ditengah perjalanan, unta tersebut menoleh ke belakang dan berkata kepadanya : "Bukan begini tujuan hidupmu dilahirkan ke dunia ini".

Dengan kata-kata unta ini, Syaikh kembali ke rumahnya, beliau naik ke loteng menjumpai ibunya. lalu Syaikh memohon kepada ibunya agar mengirimkannya ke Baghdad untut menuntut ilmu. Ketika ibunya mendengar permohonan putranya itu, ia sangat setuju dan mengijinkan Syaikh berangkat ke Baghdad. Dengan uang bekal empat puluh dinar, dimasukkan ke dalam baju putranya persis di bawah ketiak lalu dijahit agar tidak hilang. Kemudian Syaikh Abdul Qodir disuruh menggabungkan diri bersama suatu kafilah yang akan berangkat ke Baghdad. Ibunya berpesan kepada Syaikh agar jangan berdusta dalam keadaan bagaimana pun.

Setelah kafilah berangkat dan Syaikh Abdul Qodir di dalamnya, tatkala kafilah itu hampir memasuki kota Baghdad, di suatu tempat, Hamdan namanya, tiba-tiba datang enam puluh orang penyamun berkuda merampok kafilah itu habis-habisan. Semua perampok itu tidak ada yang memperdulikan Syaikh Abdul Qodir karena beliau tampak begitu sederhana. Mereka mengira pemuda itu tidak mempunyai apa-apa.

Namun ada seorang dari perampok itu bertanya kepanya, apa yang ia punya. Dijawabnya bahwa ia punya uang empat puluh dinar dijahit di bawah ketiak. Penyamun tidak percaya, lalu lapor kepada pimpinannya apa yang telah ia dengar dari pemuda itu. Lalu diperintahkan kepada penyamun tadi supaya pemuda itu dihadapkan kepadanya. Setelah Syaikh menghadap, beliau ditanya oleh kepala perampok itu, "Benar apa yang kamu katakan tadi ?", dijawab oleh Syaikh, "Benar".

Lalu kepala penyamun itu menyuruh mengiris jahitan bajunya. Dan keluarlah uang empat puluh dinar. Melihat uang itu, kepala penyamun menjadi keheran-heranan, kemudian menanyakan lagi kepada Syaikh Abdul Qodir, apa sebabnya dia berkata yang sebenarnya. Dengan tenang dijawab oleh Syaikh bahwa beliau berjanji kepada ibunya tidak akan berkata dusta kepada siapa pun dan dalam keadaan bagaimana pun.

Mendengar jawaban itu, kepala penyamun tadi menangis tersedu-sedu karena ia merasa dalam hati kecilnya bahwa ia selama hidupnya terus menerus telah melanggar perintah Tuhannya, sedang seorang pemuda ini tidak berani melanggar janji terhadap ibunya.

Lalu sang kepala perampok jatuh terduduk di kaki Syaikh ‘Abdul Qodir dan menyesali dosa yang pernah dilakukannya. Dia berjanji dengan sungguh-sungguh akan berhenti dari pekerjaan merampok yang diakuinya sendiri sebagai perbuatan yang hina dan jahat. Kemudian kepala perampok tadi dan anak buahnya mengembalikan semua barang rampokan tadi dan anak buahnya mengembalikan semua barang rampokan kepada kafilah, perjalanan pun dilanjutkan dengan selamat sampai ke Baghdad.

Anak buah perampok itu seluruhnya mengikuti jejak langkah pemimpinnya dan kembalilah mereka dalam masyarakat biasa mencari nafkah dengan halal dan jujur. Diriwayatkan bahwa ke enam  puluhperampok ini menjadi murid pertama Syaikh Abdul Qodir.

اللّٰهُمَّ انْثُـرْعَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتِ وَمَكَانِ

Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, Wa-Amiddanaa bi Asroorihi Fii kulli Waqti Wa makaan.

(DOA MANAQIB)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِلٰى حَضْرَةِ سُلْطَانِ اْلأَوْلِيَاءِ وَقُدْوَةِ اْلأَصْفِيَاءِ قُطْبِ الرَّبَّانِيِّ وَالْغَوْثِ الصَّمَدِيِّ السَّيْدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْـجَيْلَانِي قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ، اَلْـفَاتـِحَةْ ...

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ . اَللّٰهُمَّ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِأَسْمَاءِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفَى وَبِأَسْمَاءِ وَلِيِّكَ عَبْدِ الْقَادِرِ الْـمُجْتَبَى ، طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ كُلِّ وَصْفٍ يُبَاعِدُنَا عَنْ مُشَاهَدَتِكَ وَمَـحَبَّتِكَ وَاَمِتْنَا عَلىَ السُّنَّةِ وَالْـجَمَاعَةِ ، وَشَرِّحْ بِهَا صُدُوْرَنَا وَيَسِّرْ بِهَا أُمُوْرَنَا وَفَرِّجْ بِهَا هُمُوْمَنَا وَاكْشِفْ بِهَا غُمُوْمَنَا وَاغْفِرْ بِهَا ذُنُوْبَنَا وَاقْضِ بِهَا دُيُوْنَنَا وَاصْلِحْ بِهَا اَحْوَالَنَا وَبَلِّغْ بِهَا آمَالَنَا وَتَقَبَّلْ بِهَا تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ بِهَا حَوْبَتَنَا وَانْصُرْ بِهَا حُجَّتَنَا وَاجْعَلْنَا بِهَا مِنَ الْمُتَّبِعِيْنَ لِشَرِيْعَةِ نَبِيِّكَ الْمُتَّصِفِيْنَ بِمَـحَبَّتِهِ الْمُهْتَدِيْنَ بِهَدْيِهِ وَسِيْرَتِهِ وَتَوَفَّنَا بِهَا عَلَى سُنَّتِهِ وَلَا تَحْرِمْنَا فَضْلَ شَفَاعَتِهِ وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ وَاَتْبَاعِهِ الْغُرِّ الْـمُحَجِّلِيْنَ وَاَشْيَاعِهِ السَّابِقِيْنَ وَاَصْحَابِ الْيَمِيْنِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ilaa hadlroti Sulthoonil Auliyaa'i wa qudwatil ashfiyaa'i quthbir robbaanì wal ghoutsush shomadaanii Sayyidis Sayyid Abdul Qodir Al Jailani, AL FAATIHAH …

Alloohumma sholli 'ala Sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aali Sayyidina Muhammad. Amin. Alloohumma bi Asmaa'i-Kal Husnaa wa bi asmaa'i nabiyyi-Kal Mushthofa wa bi asma'i waliyyika Abdul Qodiril Mujtaba, thohhir quluubanaa min kulli washfiy yubaa'idunaa 'an musyaahadati-Ka wa mahabbati-Ka wa amitnaa 'alas sunnati wal jamaa'ati, wa syarrih bihaa shuduuronaa wa yassir bihaa umuuronaa wa farij bihaa humuumanaa waksyif bihaa ghumuumanaa waghfir bihaa dzunuubanaa waqdli bihaa duyuunana wa ashlih bihaa ahwaalanaa wa balligh bihaa aamalana wa taqobbal bihaa taubatanaa waghshil bihaa haubatanaa wanshur bihaa hujjatanaa waj 'alnaa bihaa minal muttabi'iina lisyarii'ati nabiyyi-Kal muttashifìna bi mahabbatihil muhtadiina bihadyihii wa siirotihhii wa taffanaa bihaa 'ala sunbathing tihii wa laa tahrimnaa fadlla syafaa 'atihì wahsyurnaa fì zumrotihi wa atbaa'ihil ghurril muhajjaliina wa asy yaa'ihhis saabiqiina wa ash haabihil yamiini yaa Arhamar Roohimiina.

Artinya : Ya Alloh semoga disampaikan pahala bacaaan Al Fatihah ini kehadapan sang pimpinan para Wali, panutan para Shufi, Soko guru Ketuhanan Penolong siapa saja yang bergantung kepada yang Maha kaya, Tuannya Tuan, Abdul Qodir Al Jailani, AL FAATIHAH …

Ya Alloh, limpahkan Rahmat serta Salam-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad serta keluarganya. Ya Alloh, dengan semua nama-nama-Mu yang baik dan dengan semua nama Nabimu yang terpilih, dan dengan semua nama Walimu Abdul Qodir yang terpilih dari para wali pilihan, semoga Engkau membersihkan hati kami dari semua sifat yang menjauhkan kami dari mushyahadah ke pada-MU dan Mahabbah kepada-Mu dan wafatkanlah kami di dalam menetapi Ahlussunnah wal Jamaah dan semoga Engkau melapangkan dada kami dan memudahkan semuah urusan kami dan semoga Engkau menghilangkan semua penderitaan kami dan semoga engkau melenyapkan semua kesedihan kami dan semoga Engkau mengampuni semua dosa kami dan semoga engkau membayar hutang-hutang kami dan semoga engkau memperbaiki gerak-gerik kami dan semoga Engkau menyampaikan cita-cita kami dan semoga Engkau menerima taubat kami dan semoga Engkau memandikan kaum keluarga kami dan semoga Engkau menjadikan kami dengan Nama-Nama Mulia itu termasuk orang-orang yang mengikuti syariat Nabi-Mu yang memiliki sifat-sifat cinta kepadanya yang mendapatkan petunjuknya serta perjalanannya dan semoga Engkau wafatkan kami sedang dalam melaksanakan sunnahnya dan semoga engkau tidak menghalangi kami untuk memperoleh keunggulan pertolongannya dan semoga Engkau mengumpulkan kami bersama rombongannya serta semua pengikutnya yang cemerlang serta golongannya yang terdahulu serta Ashabul Yamin, Wahai Zat Yang Maha pengasih orang-orang yang mengasihi.

========00000000000=========

Kamis, 30 Mei 2019

Kajian Kitab Hilyatul Auliya_Jangan Jadi Penolong Iblis

JANGAN JADI PENOLONG IBLIS

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:


Di bawah ini cerita shahih tentang MENGHADAPI KAWAN, SAUDARA YANG MELAKUKAN MAKSIAT dan DOSA
- bagaimana bersikap kepadanya?
- bagaimana menasehatinya?
- bagaimana akhlak kepadanya?


 


Berkata Ibnu Abi Hatim rahimahullah dengan sanadnya sampai kepada Yazid bin Al Ashamm, ia berkata: "Seorang dari penduduk Syam yang buruk akhlak, sering mendatangi Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, lalu Umar tidak melihat keberadaannya, beliau bertanya: "Apa yang dilakukan fulan bin Fulan?", mereka menjawab: " Wahai amirul mukminin, dia selalu minum (khamr), lalu Umar radhiyallahu 'anhu memanggil sekretarisnya, dan berkata:



اُكْتُبْ مِنْ عُمَر بْن الْخَطَّاب إِلَى فُلَان بْن فُلَان سَلَام عَلَيْك فَإِنِّي أَحْمَد إِلَيْك اللَّه الَّذِي لَا إِلَه إِلَّا هُوَ غَافِر الذَّنْب وَقَابِل التَّوْب شَدِيد الْعِقَاب ذِي الطَّوْل لَا إِلَه إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِير ثُمَّ قَالَ لِأَصْحَابِهِ اُدْعُوا اللَّه لِأَخِيكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ وَيَتُوب اللَّه عَلَيْهِ


"Tulis...! "Dari Umar bin Khattab ditujukan kepada Fulan bin Fulan, semoga keselamatan atas engkau, aku memuji di hadapanmu Allah Yang tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya-lah kembali (semua makhluk)." kemudian beliau berkata kepada para sahabat beliau: "Berdoalah kalian kepada Allah untuk saudara kalian, agar ia menghadap dengan hatinya dan agar Allah memberi taubat kepadanya".
ketika orang tersebut menerima surat Umar radhiyallahu 'anhu, ia membacanya dan mengulanginya, dan berkata: "Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya, sungguh beliau telah memperingatkanku siksa-Nya dan menjanjikanku bahwa Dia akan mengampuniku". Diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Nu'aim dari riwayat Ja'far bin Burqan dan ia menambahkan: "Ia masih terus mengulang-ngulang di dalam dirinya lalu ia menangis, kemudian ia bertaubat dan taubatnya baik, ketika sampai kepada Umar kabar tentangnya, maka beliau berkata: 



هَكَذَا فَاصْنَعُوا إِذَا رَأَيْتُمْ أَخًا لَكُمْ زَلَّ زَلَّة فَسَدِّدُوهُ وَوَثِّقُوهُ وَادْعُوا اللَّه لَهُ أَنْ يَتُوب وَلَا تَكُونُوا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ .


Demikianlah kalian berbuat, jika kalian melihat saudara kalian tergelincir dalam satu kesalahan, maka 
- PERBAIKILAH
- DAN TUNJUKILAH JALAN YANG BENAR, 
- SERTA DOAKAN AGAR ALLAH MEMBERI TAUBAT KEPADANYA.
- JANGANLAH JADI PENOLONG SETAN UNTUK MENJERUMUSKANNYA (ke dalam maksiat)."
lihat kitab Hilyatul Awliya, no. 4959.


Khutbah Jumat: Hikmah dan Berkah Bulan Ramadhan

Khutbah I

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَلْحَمْدُ ِللهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ

فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Ma`âsyiral Muslimîn jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, 

Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita tingkatkan kualitas takwa kita, di antaranya dengan berusaha melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya. 

Kita saat ini berada di bulan suci Ramadhan, yaitu  bulan yang diberkahi. Terutama karena di bulan Ramadhan ini ada peristiwa agung, yaitu Nuzul al-Qur’an (turunnya kitab suci al-Qur’an). Al-Qur’an ini berfungsi sebagai nûr (cahaya), hudan (petunjuk), dan rahmat bagi manusia. 

Telah maklum bahwa Ramadhan adalah bulan keberkahan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ، يَقُوْلُ : " قَدْ جَاۤءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ النَّارِ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَها فَقَدْ حُرِمَ " )وَهٰذَا لَفْظُ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ، أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ، عَنْ بِشْرِ بْنِ هِلَالٍ( ـ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah s.a.w. memberikan kabar gembira kepada para sahabat beliau. Beliau bersabda: telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian berpuasa di bulan itu, di bulan itu dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan di bulan itu pula ada Lailatul Qadar (Malam Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan”, Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu maka ia terhalang dari rahmah Tuhan (HR. al-Nasa’i).

Oleh karena itu, sesungguhnya kita diajarkan oleh Nabi Muhammad agar menyambut bulan Ramadhan ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sejak jauh-jauh hari, dari bulan Rajab. Sejak bulan Rajab kita diajarkan untuk memohon keberkahan hidup di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, kita diajarkan agar berdoa:

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِيْ رَمَضَانَ

”Wahai Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan berkahilah pula kami di bulan Ramadhan.” 

Mengapa kita diajarkan untuk memohon keberkahan? Apakah keberkahan penting bagi kita? Ini karena keberkahan hidup menjadi dambaan setiap orang yang berakal sehat. Berkah berarti bertambah. Dalam makna luas berkah berarti bertambah kebaikan (ziyâdat al-khair fî al-syai’), termasuk kesejahteraan baik dari segi material maupun immaterial.

Berkah dalam arti materi, seperti harta benda yang kita miliki makin bertambah, dan usaha semakin maju. Berkah dalam arti immateri, seperti ketenteraman hati kita makin terasa, dan pengetahuan dan wawasan yang semakin bertambah luas, yang mengarahkan kepada sikap dan perbuatan yang penuh hikmah kebijaksanaan, sikap dan perbuatan yang moderat, tidak ekstrem, sikap dan perbuatan yang mencerminkan rahmatan lil ‘alamin. 

Ma’asyiral Muslimin yang semoga dimuliakan Allah,

Di antara hikmah bulan Ramadhan adalah ada pengabulan doa bagi orang yang berdoa; ada penerimaan tobat orang yang bertobat, dan ada pengampunan bagi orang yang mohon ampunan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi yang panjang, yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas radhiyallau ‘anhuma, di dalam bagian hadits ini disebutkan:

يَقُوْلُ اللهُ - عَزَّ وَجَلَّ - فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ : هَلْ مِنْ سَاۤئِلٍ فَأُعْطِيَهُ سُؤَلْهُ ؟ هَلْ مِنْ تَاۤئِبٍ فَأَتُوْبَ عَلَيْهِ ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟

“Dalam setiap malam bulan Ramadhan Allah ‘azza wa jalla berseru sebanyak tiga kali: Adakah orang yang meminta maka aku penuhi permintaannya? Adakah orang yang bertobat maka aku terima tobatnya? Dan adakah orang yang memohon ampunan maka aku ampuni dia?” (HR. Al-Thabrâni dan al-Baihaqî). 

Jamaah shalat Jumat yang semoga dimuliakan Allah,

Pada bulan Ramadhan kita diwajibkan berpuasa, yang tujuan utamanya adalah untuk menjadikan kita orang-orang yang bertakwa. Sejarah kewajiban puasa Ramadhan ini ditetapkan pada bulan Sya’ban Tahun Kedua Hijriyah, yang mengandung banyak hikmahnya. 

Di antara hikmah berpuasa Ramadhan adalah mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita selama ini. Karena makna ibadah secara mutlak, termasuk ibadah puasa, adalah ungkapan syukur dari seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa kita tidak akan dapat menghitung nikmat Tuhan (QS. Ibrâhim [14]: 34).

Dalam puasa Ramadhan setidaknya ada 3 faedah (manfaat), yaitu fâ’idah rûhiyyah (manfaat psikologis/spiritual/kejiwaan), fâ’idah ijtimâ’iyyah (manfaat sosial-kemasyarakatan) dan fâ’idah shihhiyyah (manfaat kesehatan).

Di antara faedah kejiwaan dari berpuasa Ramadhan adalah pembiasaan diri kita agar berlaku sabar, ajaran agar kita mengekang hawa nafsu, dan ekspresi atau ungkapan mengenai karakteristik takwa yang tertanam dalam hati. Takwa itulah yang menjadi tujuan khusus dalam berpuasa Ramadhan.  

Di antara faedah sosial-kemasyakatan dalam puasa Ramadhan ini adalah pembiasaan kita, umat Islam, untuk tertib, disiplin dan bersatu padu, cinta keadilan dan kesetaraan di antara umat Islam: antara yang kaya dan yang miskin, antara yang pejabat dan rakyat, antara pengusaha dan karyawan, dan seterusnya. Tidak ada perbedaan di antara mereka, semuanya wajib berpuasa ketika telah memenuhi persyaratannya. Juga di antara faedah sosial dari puasa adalah pembentukan rasa kasih sayang dan berbuat baik di antara kaum Muslim, sebagaimana puasa Ramadhan ini melindungi masyarakat dari keburukan-keburukan dan kemafsadatan.

Adapun di antara manfaat kesehatan dari berpuasa Ramadhan adalah berpuasa itu membersihkan usus-usus dan pencernaan, memperbaiki perut yang terus-menerus beraktifitas, membersihkan badan dari lendir-lendir/lemak-lemak, kolesterol yang menjadi sumber penyakit, dan puasa dapat menjadi sarana diet atau pelangsing badan. 

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Oleh karena itu, marilah Bulan Ramadhan ini, kita jadikan bulan kesederhanaan, bulan peribadatan, bulan memperbanyak berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, bulan perlindungan badan kita, ucapan kita dan hati kita dari hal-hal yang dilarang agama, seperti perkataan keji (qaul az-zûr), ghibah, menebar hoaks, fitnah, hate speech (ujaran kebencian), dan adu domba, baik secara langsung maupun melalui media-media digital, media elektronik, televisi, radio, internet, dan media sosial (medsos). Intinya marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini bulan penyucian badan dan rohani kita dari segala keburukan, agar kita mendapatkan hikmah yang berharga dan keberkahan hidup.

Saudara-saudara jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup khutbah pertama ini marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala dalam QS. al-A’raf (7): ayat 96:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٓ ءٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. 

Semoga kita mendapatkan hikmah yang berharga dan keberkahan di bulan Ramadhan ini. Amîn yâ rabbal ‘âlamîn. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ



Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Jumat: Bagaimana Mengisi Jelang Akhir Ramadhan?

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْفُرْقَانَ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذَيِرًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ النِّعَمِ مِدْرَارًا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُطَهِّرُوْنَ اللهَ تَطْهِيْرًا. فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ. بسم الله الرحمن الرحيم، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ 

Hadirin sidang Jumat hafidhakumullah,  

Saya berwasiat kepada pribadi saya sendiri, juga para hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. 

Hadirin,

Kita sekarang sudah memasuki bagian-bagian akhir pada bulan Ramadhan. Kita perlu mengoreksi diri kita sendiri sebagai bahan evaluasi. Mulai awal Ramadhan kemarin sampai hari ini: apakah kualitas dan kuantitas ibadah kita sudah sesuai yang kita harapkan?. Apabila sudah, mari kita jaga sekuat tenaga hingga akhir Ramadhan. Jika belum sesuai dengan ekspektasi kita, mari kita tingkatkan dengan sebaik-baiknya. Karena,


 


اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ

Artinya: “Setiap amal tergantung dengan endingnya”

Seperti orang yang sedang membangun rumah. Kita ini sudah membangun rumah 70 persen. Bagaimana yang 30 persen sisanya, ini sangat menentukan. Kalau finishing-nya bagus, akan jadi rumah yang indah, tapi jika finishing-nya dikerjakan secara asal-asalan, tentu rumah yang dibangun dengan permulaan susah payah, hanya akan mendapatkan nilai buruk hanya masalah 30 persen yang akhir adalah buruk. 

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan pada sepertiga bulan Ramadhan akhir ini. Di antaranya bahwa Allah menciptakan umat Muhammad penuh dengan keistimewaan. Sebagian keistimewaannya adalah Allah menciptakan umat Muhammad sebagai umat yang lahir di muka bumi ini pada bagian paling akhir. Kenapa? Karena apabila ada umat  Muhammad yang menjadi seorang pendosa, seumpama ia mati, di kuburan disiksa tidak terlalu lama lagi kiamat akan datang, ia akan dientaskan dari siksaan kubur. Jika ia dalam keadaan membawa iman, ia akan berpeluang besar mendapatkan syafa’at Rasulullah ﷺ. Kata Rasulullah ﷺ:

شَفَاعَتِيْ لِاَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ اُمَّتِىْ 

Artinya: “Syafa’atku untuk para pendosa besar dari umatku.” (HR Abu Dawud dan At- Tirmidzi) 

Ada keutamaan lain, umat Muhammad tidak diciptakan oleh Allah dengan umur yang panjang-panjang, 500 tahun, 700 tahun dan lain sebagai. Umur umat Muhammad rata-rata antara 60 sampai 70 tahun. Hal ini sebutkan dalam hadits Nabi:


 


أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.

Artinya: “Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melewati usia tersebut.” (HR At-Tirmidzi) 

Umur yang pendek-pendek ini di antara hikmahnya adalah supaya umat Muhammad tidak capek-capek beribadah yang panjang. Umat Muhammad diberi oleh Allah umur yang pendek, namun dalam pendeknya umur, Allah memberikan peluang lailatul qadar sehingga apabila lailatul qadar ini bisa digunakan dengan baik, hal tersebut lebih baik daripada seribu bulan atau 83 tahun lebih yang tidak malam lailatul qadarnya. Maka, seumpama ada umat Muhammad mulai ia baligh sekitar umur 13 tahun, setiap tahun ia bisa menggunakan malam laitalul qadar dengan sebaik mungkin sedangkan umurnya sampai 63 tahun, ia berarti telah menjalankan ibadah lebih baik dari 4.500 tahun yang tidak ada lailatul qadarnya. Betapa Allah sungguh memuliakan umat Muhammad dibandingkan umat yang lain. 

Lailatul qadar tidak bisa dipastikan jatuhnya kapan. Bisa pada awal Ramadhan, tengah ataupun di bagian akhir Ramadhan. Hal ini tidak dijelaskan secara pasti supaya kita mau menjaring terus menerus. Dengan begitu, selama Ramadhan kita berusaha memenuhinya dengan ibadah-ibadah. Hanya saja, secara umum memang lailatul qadar itu banyak yang jatuh pada kisaran 10 hari terakhir bulan Ramadhan. 

Rasulullah begitu tampak sikapnya bagaimana beliau memenuhi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Di antaranya Rasulullah telah memberikan contoh kepada kita melalui hadits yang diriwayatkan oleh istrinya Aisyah radliyallahu anha:

كانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: “Nabi ﷺ ketika memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari Muslim) 

Pengertian “mengencangkan sarungnya”, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam tafsirnya Fathul Bari, adalah Rasulullah ﷺ memisahkan diri dari istrinya, tidak menggauli istri beliau selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah lebih fokus ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 

Hadits tersebut terkandung maksud bahwa cara Rasulullah menghidupkan malam lailatul qadar adalah dengan tidak menjadikan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tersebut sebagai momen bermals-malasan dan sarat tidur. Orang tidur sama dengan mati, maka lawan katanya adalah menghidupkan. Rasulullah menghidupkan malam dengan terjaga, beribadah, tidak mengisinya dengan tidur. 

Selain itu, Baginda Nabi juga memperhatikan masalah ibadah keluarganya. Beliau tidak ibadah sendirian sedangkan keluarga yang lain santai-santai, tidak. Rasulullah membangunkan keluarganya untuk beribadah malam, bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 

Hadirin hafidhakumullah, 

Amalan lain yang selalu dilakukan oleh Rasulullah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan adalah i'tikaf. Kisah ini diceritakan oleh Sayyidatina Aisyah radliyallahu anha, istri beliau: 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala kemudian istri-istri beliau i'tikaf setelah beliau kembali ke rahmatullah.” (HR Bukhari) 

Hadirin… 

Hadits di atas menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan perkerjaan penting sehingga Rasulullah melaksanakan tidak hanya beberapa hari saja di sepuluh akhir bulan Ramadhan. Tidak juga hanya melaksanakan pada salah satu Ramadhan, namun setiap sepuluh akhir Ramadhan sampai beliau meninggalkankan dunia. Kita patut mencontoh sunnah Nabi yang seperti ini. Dalam kitab Al-Majmu’ syarah Al-Muhadzab disebutkan: 

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ وَمَنْ أَرَادَ الِاقْتِدَاءَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اعتكاف الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ 

Kata Imam As-Syafi’i dan murid-muridnya “Barangsiapa yang ingin mengikuti Nabi ﷺ dalam menjalankan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan 

فَيَنْبَغِي أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْحَادِي وَالْعِشْرِينَ منه 

Maka hendaknya ia masuk masjid pada tanggal 20 Ramadhan sore hari sebelum memasuki malamnya tanggal 21. 

Hal ini penting dilakukan supaya apa? 

لِكَيْلاَ يَفُوْتُهُ شَيْئٌ مِنْهُ 

Supaya tidak terlewatkan sedikitpun waktu untuk i’tikaf. 

Kemudian kapan selesai i’tikafnya? Kalau ingin secara total mengikuti Rasul seratus persen dalam hal ini, Imam Nawawi melanjutkan 

وَيَخْرُجُ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ لَيْلَةَ الْعِيدِ 

Keluarnya setelah melewati maghrib malam hari raya Idul Fitri 

سَوَاءٌ تَمَّ الشَّهْرُ أَوْ نَقَصَ 

Baik hitungan bulannya penuh 30 hari atau pun hanya 29 

وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَمْكُثَ لَيْلَةَ الْعِيدِ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ صَلَاةَ الْعِيدِ أَوْ يَخْرُجَ مِنْهُ إلَى الْمُصَلَّى لِصَلَاةِ العيد اِنْ صَلَّوْهَا فِي الْمُصَلَّى

Namun yang paling utama adalah tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat id sekalian. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa I’tikaf hukumnya adalah sunnah, namun I’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan hukumnya lebih sunnah atau sunnah muakkadah, sunnah yang sangat kuat. (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, juz 6, halaman 375) 

Hadirin hafidzkumullah, 

Pada bulan Ramadhan juga disebutkan sebagai bulan Al-Quran. 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan menjadi penjelas dari petunjuk dan dari petunjuk-petunjuk itu dan menjadi pembeda (dari perkara yang haq dan bathil).” (QS Al-Baqarah: 185) 

Pada bulan Ramadhan Rasulullah juga memperlakukan dengan istimewa. Tidak sebagaimana bulan-bulan yang lain, pada bulan ini beliau bertadarus dengan malaikat Jibril. Rasulullah ﷺ membaca satu ayat, malaikat Jibril membaca satu ayat secara bergantian sampai khatam dalam sebulan. Kemudian kita melestarikan tradisi bertadarus bersama dengan keluarga dan saudara kita berawal dari kisah ini. 

Imam Syafi’i apabila di luar Ramadhan selalu mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali dalam shalatnya. Namun apabila pada bulan Ramadhan, dalam sehari semalam beliau menghatamkan Al-Qur'an dalam shalat sebanyak dua kali khataman. 

Oleh karena itu, mari pada bulan Al-Qur'an ini, kita perbanyak bacaan Al-Qur'an kita. Bagi yang belum bisa, jadilah Ramadhan ini sebagai tonggak awal kita dalam mempelajari Al-Qur'an sesuai tajwid kepada guru yang mumpuni dan di kemudian hari bisa sebagai bahan dasar untuk membaca Al-Qur'an. 

Pada akhirnya, dalam khutbah ini, saya mengajak kepada para hadirin, untuk bersungguh-sungguh memenuhi puasa Ramadhan dan beribadah malamnya dengan sebaik mungkin. Semoga kita dan keluarga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjalankan ketaatan-ketaatan yang pada akhirnya kelak kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatiman, amin. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ ـ 





Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khubat Jumat di Akhir Bulan Ramadhan

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ


وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ


قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ


Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa syukur kita dengan dibuktikan dengan ketakwaan pada Allah. Karena Allah telah memberikan kita berbagai nikmat. Terutama tiga nikmat yang besar yang disebutkan oleh Wahb bin Munabbih sebagai tiga nikmat utama yaitu Islam, sehat dan kecukupan.

Shalawat dan salam atas junjungan kita, suri tauladan kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Kita sebentar lagi akan menjelang akhir-akhir Ramadhan.

Apa saja amalan yang mesti kita lakukan?

Ada tiga amalan yang bisa kita fokus untuk melakukannya di akhir-akhir Ramadhan nanti.

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

 

Pertama: Lebih serius lagi dalam ibadah di akhir Ramadhan

 

Lihatlah keseriusan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim, no. 1175)

Dikatakan oleh istri tercinta beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ


Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174).

 

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah,

 

Kedua: Melakukan I’tikaf

I’tikaf maksudnya adalah berdiam di masjid beberapa waktu untuk lebih konsen melakukan ibadah.

Lihatlah contoh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari, no. 2026; Muslim, no. 1172).

Hikmah beliau seperti itu disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri berikut di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ


Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018; Muslim, no. 1167).

Jadi, beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melakukan i’tikaf supaya mudah mendapatkan malam lailatul qadar.

Lalu berapa lama waktu i’tikaf?

Al-Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al-Inshaf, 6: 17)

Karena Allah hanyalah menetapkan,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ


Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al Baqarah: 187).

Ibnu Hazm berkata, “Allah Ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf (dalam ayat ini). Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.” (Lihat Al-Muhalla, 5: 180).

Berarti beri’tikaf di siang atau malam hari dibolehkan walau hanya sesaat.

 

Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah,

 

Ketiga: Raih Lailatul Qadar

Allah menyebut keutamaan lailatul qadar,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)


Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)

Menghidupkan malam lailatul qadar bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an. Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901)

Bisa juga kita mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku). Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan do’a ini pada ‘Aisyah, istri tercinta beliau.

 

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam.

 

Sebagaimana dinukil oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan dinukil pula sampai pada Ibnu ‘Abbas disebutkan,

أَنَّ إِحْيَاءَهَا يَحْصُلُ بِأَنْ يُصَلِّيَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَ يَعْزِمُ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ


“Menghidupkan lailatul qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjama’ah.”

Dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha’, Ibnul Musayyib menyatakan,

مَنْ شَهِدَ لَيْلَةَ القَدْرِ ـ يَعْنِي فِي جَمَاعَةٍ ـ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا


“Siapa yang menghadiri shalat berjama’ah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.” (Latha’if Al-Ma’arif, hlm. 329).

Demikian khutbah pertama ini.

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ




Khutbah Kedua

 

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ


 

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah,

 

Sebagaimana telah dijelaskan tentang lailatul qadar tadi, lalu kapan lailatul qadar itu terjadi?

Kata Ibnu Taimiyah, lailatul qadar sudah diketahui di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Inilah yang disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


Malam lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Malam tersebut lebih mungkin ditemukan pada malam ganjil.

Akan tetapi, ganjil tersebut bisa dihitung dari awal bulan, maka malam yang dicari adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Namun bisa jadi pula lailatul qadar dihitung dari malam yang tersisa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِتَاسِعَةٍ تَبْقَى لِسَابِعَةٍ تَبْقَى لِخَامِسَةٍ تَبْقَى لِثَالِثَةٍ تَبْقَى


“Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa, bisa juga pada tiga hari yang tersisa” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, jika bulan Ramadhan ternyata 30 hari, berarti malam ketiga puluh adalah malam yang menggenapi. Jika dihitung dari hari terakhir, malam ke-22 berarti sembilan hari yang tersisa. Malam ke-24 berarti tujuh hari yang tersisa.

Inilah yang ditafsirkan oleh Abu Sa’id Al Khudri dalam hadits shahih. Inilah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa memilah-milah hari ganjil dan genap.

Kata Ibnu Taimiyah pula …

Lailatul qadar lebih sering terjadi pada malam ke-27. Kenyataannya demikian sebagaimana Ubay bin Ka’ab itu bersumpah bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27. Ada yang bertanya padanya, “Dari mana engkau bisa tahu bahwa lailatul qadar terjadi pada malam tersebut?” “Yaitu dari ayat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan pada kami bahwa pagi harinya matahari akan terbit dengan sinar yang tidak begitu menyorot”, jawab Ubay. (Majmu’ Al-Fatawa, 25: 284-285).

 

Akhirnya kami memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa memberikan kita petunjuk dan taufik untuk menghidupkan akhir Ramadhan ini dengan amalan shalih.

 

Jangan lupa untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali.

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ


اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا


اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.


وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.