Senin, 30 Desember 2019

Makna Al-Ilah_Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM)

Makna Al-Ilah

Kata ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab jika dikatakan aliha-hu, berarti:

  1. Sakana ilahi, yaitu merasa tenteram kepadanya. Maksudnya adalah, ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang. Dan manakala mendengar nama ilah itu disebut atau dipuji orang, ia merasa tenteram.
  2. Istajara bihi, yaitu merasa dilindungi olehnya. Artinya, karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
  3. Asyauqu ilaihi, yaitu merasa selalu rindu kepadanya. Maksudnya adalah, ada keinginan untuk selalu bertemu dengannya, baik berkelanjutan atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
  4. Wuli’a bihi, yaitu merasa cinta dan cenderung kepadanya. Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.

Dalam perkataan orang Arab, kata alihahu sinonim dengan kata ‘abadahu. Misalnya ada ungkapan kalimat, aliha rajulu ya-lahu“lelaki itu menghambakan diri pada ilah-nya”.

Dalam hal ini, Islam menyeru umat manusia agar menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya ilah. Jangan sampai mereka meng-ilah-kan dunia, sehingga merasa tenteram kepadanya padahal dunia itu fana,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus, 10: 7-8)

Islam juga mencegah manusia meng-ilah-kan jin, yakni meminta perlindungan kepada mereka,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Jin, 72: 6)

Islam juga mengajak umat manusia untuk tidak membuat andad (tandingan) bagi Allah Ta’ala. Namun orang-orang musyrik malah mencintai andad tersebut sebagaimana mencintai Allah. Sedangkan orang-orang mu’min hanya cinta dan amat sangat cinta kepada Allah Ta’ala semata.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)

*****

Seseorang dikatakan telah menjadi ‘abduhu -hambanya ilah– jika ‘memenuhi syarat’ sebagai berikut.

  1. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalul mahabbah (kecintaan yang sempurna), sehingga segala ‘tuntutan cinta’ selalu siap dilaksanakannya. Siap berkorban, memberi loyalitas, taat dan patuh kepadanya.
  2. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalut tadzalul (perendahkan diri yang sempurna). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, lalu bersedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.
  3. Menyertai kecintaan kepada sesuatu itu dengan kamalul khudu’ (ketundukan atau kepatuhan yang sempurna). Sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.

Karena amat cintanya kepada berhala, orang-orang musyrik akan kesal jika yang disebut-sebut hanya nama Allah. Namun ketika nama berhalanya disebut, barulah ia merasa girang

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar, 39: 45)

Mereka demikian menghormati berhala-berhala sembahannya dan merasa marah apabila berhala-berhala tersebut dihinakan (lihat: QS. 71:23, QS. 21:59, 68).

Jadi, makna Al-Ilah sekurang-kurangnya mencakup empat makna.

  1. Al–Marghub, yaitu dzat yang senantiasa diharapkan.
  2. Al–Mahbub, yaitu dzat yang amat sangat dicintai
  3. Al–Matbu’, yaitu dzat yang selalu diikuti atau ditaati.
  4. Al–Marhub, yaitu dzat yang sangat ditakuti.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan makna al-ilah sebagai berikut,

هو الَّذِي يألَهُهُ القلبُ بكمالِ الْحُبِّ والتَّعظيمِ ، والإجْلالِ والإكْرامِ، والخوفِ والرَّجاءِ ، ونحوِ ذلكَ.

“Dia adalah sesuatu yang digandrungi hati dengan kecintaan yang sempurna, juga pengagungan, penghormatan, pemuliaan, cemas, harap, dan hal-hal yang secaman dengan itu.”

Dengan kata lain, al-Ilah itu adalah al-ma’bud (yang disembah). Bagi mu’minin, al-ilah yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Dialah shahibul wilayah (yang berhak mendapat loyalitas), shahibut tha’ah (yang berhak ditaati), dan shahibul hakimiyah (yang berhak menetapkan hukum).

Wallohu a’lam.

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'

Minggu, 29 Desember 2019

Asma-ul Qur’an & Makanatul Qur’an

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM)


Asmaul Qur’an & Makanatul Qur’an

Nama-nama & Kedudukan Al-Qur’an

Allah Ta’ala menyebut Al-Qur’an dengan berbagai nama dan sifat, diantaranya adalah:

Pertama, al-kitab (kitab/buku).

Nama dan sifat ini tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 2)

Al-Qur’an disebut “Al Kitab.” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.

Kedua, al-huda (petunjuk).

Nama atau sifat ini diantaranya tercantum dalam ayat kedua dari surat Al-Baqarah di atas, juga tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus, 10: 57)

Al-Qur’an disebut al-huda atau hudan (petunjuk), karena ia mengarahkan manusia kepada jalan yang lurus yang menyelamatkan mereka dari keyakinan yang sesat dengan jalan membimbing akal dan perasaan mereka agar berkeyakinan yang benar dengan memperhatikan bukti-bukti kebenaran Allah, serta membimbing mereka agar giat beramal dengan jalan mengutamakan kemaslahatan yang akan mereka dapati dari amal yang ikhlas serta menjalankan aturan hukum yang berlaku, mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana perbuatan yang harus dijauhkan.

Ketiga, al-furqan (pembeda).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan, 25: 1)

Al-Qur’an disebut dengan “Al-Furqan” karena Al-Quran itu adalah pembeda yang hak dan yang batil, antara petunjuk dan kesesatan, dan berbeda dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Kitab-kitab yang sebelumnya diturunkan hanya untuk suatu umat di masa itu tetapi Al-Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya sampai hari kiamat, karena nabi-nabi sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diutus untuk kaumnya sedang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk manusia di segala masa dan di semua tempat.

Keempat, ar-rahmah (rahmat).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam surat Yunus ayat 57 di atas, juga tercantum falam firman Allah Ta’ala,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra, 17: 82)

Al-Qur’an disebut “Ar-Rahmah” karena Al-Qur’an merupakan karunia bagi orang-orang yang meyakini dan melaksanakan petunjuk-petunjuknya. Mereka akan merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan Al-Qur’an, hidup tolong-menolong, sayang menyayangi, bekerja sama dalam menegakkan keadilan, menumpas kejahatan dan kekejaman, serta saling bantu-membantu untuk memperoleh kesejahteraan.

Kelima, an-nur (cahaya).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mu’jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS. An-Nisa, 4: 174)

Al-Qur’an disebut “An-Nur” karena Al-Qur’an merupakan cahaya yang terang benderang yang memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik – penyembahan kepada berhala, binatang dan matahari bahkan penyembahan arwah-arwah- kepada cahaya iman. Mengeluarkan mereka dari berbagai macam paham yang sesat dan menyesatkan; memberikan pedoman sehingga manusia dapat berpikir kembali dan menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh selama ini adalah jalan salah yang membawa kepada kerusakan dan keruntuhan.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu” (QS. Al-Hadid, 57: 9)

Keenam, ar-ruh (Roh).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. As-Syura, 42: 52)

Al-Qur’an disebut “Ar-Ruh”-menurut Muhammad Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, dalam Zubdatut Tafsir– karena Al-Qur’an memberi petunjuk kepada manusia; didalamnya terdapat kehidupan dari kematian kekafiran. Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, kata ‘ruhan’ dia adalah Al-Qur’an yang dengannya hiduplah kalbu-kalbu (manusia).

Ketujuh, asy-syifa (obat).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala surat Yunus ayat 57 dan surat Al-Isra ayat 82 yang telah disebutkan di atas.

Al-Qur’an disebut “Asy-Syifa” karena di dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi segala penyakit keraguan, kemusyrikan, kemunafikan, syahwat, dan syubhat. Termasuk pula semua penyakit jiwa yang mengganggu ketentraman manusia, seperti putus harapan, lemah pendirian, memperturutkan hawa nafsu, menyembunyikan rasa hasad dan dengki terhadap manusia, perasaan takut dan pengecut, mencintai kebatilan dan kejahatan, serta membenci kebenaran dan keadilan.

Kedelapan, al-haq (kebenaran).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu’”. (QS. Yunus, 10: 108)

Al-Qur’an disebut “Al-Haq” karena Al-Qur’an mengandung kebenaran yang tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Al-Qur’an mengungkapkan bukti-bukti keesaan Allah dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menguraikan tentang rasul-rasul zaman dahulu dan dakwah mereka; di dalamnya terkandung pedoman-pedoman hidup bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan akhirat.

Kesembilan, al-bayan (penjelasan).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَقُرْآنٍ مُبِينٍ

“Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat- ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Qur’an yang memberi penjelasan.” (QS. Al-Hijr, 15: 1)

Al-Qur’an disebut “Al-Bayan” karena Al-Quran memberikan penjelasan tentang petunjuk untuk keluar dari kesesatan, serta menerangkan berbagai hikmah dan hukum; tentang ketauhidan, kisah-kisah, budi pekerti yang baik, ilmu pengetahuan, janji Allah dan ancaman-Nya, hukum-hukum yang menjadi pedoman bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya di dunia dan di akhirat nanti.

Kesepuluh, al-mauidzah (pelajaran).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam surat Yunus ayat 57 yang telah disebutkan di atas, juga disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلاَ مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nur, 24: 34)

Al-Qur’an disebut “Al-Mauidzah” karena Al-Qur’an mengandung pelajaran-pelajaran yang indah  yang dapat memperbaiki akhlak dan amal perbuatan manusia. Didalamnya disebutkan tentang balasan-balasan (amal) yang disampaikan dengan targhib (mendorong atau memotivasi untuk mencintai kebaikan) dan tarhib (menimbulkan perasaan takut).

Kesebelas, ad-dzikr (pemberi peringatan).

Nama dan sifat ini diantaranya tercantum dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr: 9).

Al-Qur’an disebut “Adz-Dzikr” karena Al-Qur’an merupakan peringatan tentang berbagai permasalahan, juga merupakan dalil-dalil yang jelas yang di dalamnya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran.

*****

Dari sebagian nama-nama Al-Qur’an tersebut tergambarlah kepada kita makanatul qur’an (kedudukan Al-Qur’an) sebagai pedoman hidup manusia yang begitu lengkap.

Pertama, Al-Qur’an adalah kitabun naba-i wal akhbar (kitab berisi berita dan kabar).

Di dalam al-Qur’an terdapat berita-berita tentang kejadian masa lalu maupun kejadian yang akan datang. Al-Qur’an memberitakan kisah para nabi dan rasul terdahulu: Adam, Nuh, Ibrahim, Ya’kub, Yusuf, Musa, Isa, dll.—agar menjadi pelajaran bagi umat manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud, 11: 120)

Al-Qur’an memberitakan kejadian-kejadian yang akan datang. Sebagai contoh, pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam turun ayat tentang kemenangan bangsa Romawi setelah sebelumnya mengalami kekalahan,

الم  غُلِبَتِ الرُّومُ  فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ  فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

 “Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). (QS. Ar-Rum, 1-4)

Berita Al-Qur’an ini kemudian terbukti kebenarannya. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar-Rum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Romawi dan Persia terjadi di Nineveh. Pasukan Romawi secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Romawi yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Romawi.

Al-Qur’an juga mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi seperti kejadian hari kiamat, kebangkitan manusia, dan penghisabannya di akhirat kelak. Misalnya disebutkan dalam surat berikut ini,

إِذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا (١) وَأَخْرَجَتِ الأرْضُ أَثْقَالَهَا (٢) وَقَالَ الإنْسَانُ مَا لَهَا (٣) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (٤) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (٥)يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (٦) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)

(1) Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, (2) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, (3) dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” (4) Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, (5) karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya. (6) Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatannya, (7) Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Al-Zalzalah, 99: 1-8)

Kedua, Al-Qur’an adalah kitabul hukmi wa-syari’ah (kitab hukum dan syari’ah).

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah menetapkan berbagai macam hukum dan syariat yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dia memerintahkan kepada mereka agar berhukum kepadanya secara konsekwen,

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah, 5: 49)

Ketiga, Al-Qur’an adalah kitabul jihad (kitab jihad).

Al-Qur’an berbicara tentang jihad di banyak ayat. Dalam arti khusus, yakni qital. Dalam arti umum, yakni segala bentuk upaya dalam rangka meninggikan kalimat Allah Ta’ala.

Dia berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut, 29: 69)

Menurut Abu Sulaiman Ad-Darami “jihad” dalam ayat ini bukan berarti memerangi orang-orang kafir saja, melainkan juga berarti mempertahankan agama, memberantas kezaliman. Dan yang terutama ialah menganjurkan berbuat yang makruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar, memerangi hawa nafsu dalam rangka mentaati Allah Ta’ala.

Keempat, Al-Qur’an adalah kitabut tarbiyah (kitab pendidikan).

Sebagaimana telah kita ketahui, Al-Qur’an adalah kitab yang mengandung al-mau’izhah (pelajaran),

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلاَ مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nur, 24: 34)

Dengan bimbingan ayat-ayatnya, manusia menjadi memiliki ma’rifah tentang iman dan amal shaleh,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. As-Syura, 42: 52)

Al-Qur’an memuat kisah-kisah penuh hikmah yang mengandung banyak pelajaran. Selain kisah para nabi dan rasul, Al-Qur’an pun memuat kisah-kisah orang-orang shaleh seperti Luqman, ashabul kahfi, Thalut, Dzulkarnain, Maryam, Asiah, dan lain-lain. Dari kisah-kisah tersebut dan juga ayat-ayatnya secara umum, kita dapat menyimpulkan manhaj qur’ani dalam tarbiyah.

Kelima, Al-Qur’an adalah minhajul hayah (pedoman hidup).

Pembahasan tentang hal ini silakan dirujuk ke madah Minhajul Hayah. Ringkasnya, Al-Qur’an telah memuat seluruh pedoman yang dibutuhkan manusia berupa aqidah, ibadah, hukum, mu’amalah, akhlaq, politik, ekonomi dan permasalahan-permasalahan kehidupan lainnya, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,

مَّافَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَىْءٍ

“Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab”. (QS. Al-An’am, 6: 38)

Dan firman Allah Ta’ala :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. An-Nahl, 16: 89)

Al-Qurthubi berkata dalam menafsirkan firman Allah di atas: “Yakni di dalam Al-Lauh Al-Mahfud. Karena sesungguhnya Allah sudah menetapkan apa yang akan terjadi, atau yang dimaksud yakni di dalam al-Qur’an yaitu Kami tidak meninggalkan sesuatupun dari perkara-perkara agama kecuali Kami menunjukkannya di dalam Al-Qur’an, baik penjelasan yang sudah gamblang atau global yang penjelasannya bisa didapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dengan ijma’ ataupun qias berdasarkan nash Al-Qur’an”. (Juz 6 hal. 420).

Kemudian Al-Quthubi juga berkata: “Maka benarlah berita Allah, bahwa Dia tidak meninggalkan perkara sedikitpun dalam Al-Qur’an baik secara rinci ataupun berupa kaidah.

Ath-Thabari berkata dalam menafsirkan ayat (وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ) “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu”. (An-Nahl: 89): “Al-Qur’an ini telah turun kepadamu wahai Muhammad sebagai penjelasan apa yang dibutuhkan manusia, seperti mengetahui halal dan haram dan pahala dan siksa. Dan sebagai petunjuk dari kesesatan dan rahmat bagi yang membenarkannya dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, berupa hukum Allah, perintahNya dan laranganNya, menghalalkan yang halal mengharamkan yang haram. …Dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri …… beliau berkata : “dan sebagai gambar gembira bagi siapa saja yang ta’at kepada Allah dan tunduk kepadaNya dengan bertauhid dan patuh dengan keta’atan, maka Allah akan berikan kabar gembira kepadanya berupa besarnya pahala di akhirat dan keutamaan yang besar. (Juz 14 hal. 161).

Demikianlah keagungan Al-Qur’an, tergambar dari nama-nama dan kedudukannya yang mulia.

Wallahu A’lam.

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'


Kamis, 26 Desember 2019

Syuruthu Qobuli Asy-Syahadatain (Syarat-syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat)

Syuruthu Qobuli asy-Syahadatain (Syarat-syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat)

Setelah membaca pembahasan sebelumnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa syahadat bukanlah perkara yang sepele. Ucapan syahadat mengandung konsekuensi yang demikian besar di hadapan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu kita perlu memperkokoh syahadat kita agar diterima oleh Allah Ta’ala.

Berikut ini syarat-syaratnya:

Pertama, (العلم المنافي للجهل). Artinya,  didasari dengan ilmu yang menghilangkan kejahilan.

Syahadatain yang kita ucapkan harus didasari pengetahuan dan pemahaman, yakni tidak ada peribadahan kepada selain Allah Ta’ala dan menetapkan bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya yang patut diibadahi dengan sebenarnya. Syahadatain yang kita ucapkan harus menghilangkan kejahilan terhadap makna ini.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad, 47 : 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Kedua, (اليقين المنافي للشك). Ucapan syahadatain harus didasari dengan keyakinan yang menghilangkan keraguan, dengan begitu ia tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai ujian dan cobaan yang menderanya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya (syahadatain) dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga” (HR. Muslim No. 147)

Ketiga, (الإخلاص المنافي للشرك) didasari dengan keikhlasan (kemurnian iman) yang menghilangkan kesyirikan.

Keyakinan mengenai keesaan Allah itupun harus dilandasi keikhlasan (kemurnian) di hati, bahwa hanya Allah lah yang ia jadikan sebagai Ilah, tiada sekutu, tiada sesuatu apapun yang dapat menyamainya-Nya. Keikhlasan seperti ini akan menghilangkan syirik kepada sesuatu apapun juga. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah, 98 : 5)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari)

Keempat, (الصدق المنافي للكذب) didasari dengan kejujuran yang menghilangkan kedustaan.

Syahadatain itu juga harus dilandasi dengan kejujuran. Artinya, apa yang diucapkan oleh lisan harus sesuai dengan apa yang terdapat di dalam hati. Karena jika lisannya mengucapkan syahadatain, tapi hatinya meyakini sesuatu yang lain atau bertentangan dengan syahadatain, maka ini merupakan sifat munafik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 8-9)

Lihatlah bagaimana syahadat orang munafik ditolak oleh Allah Ta’ala karena tidak dilandasi kejujuran, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun, 63: 1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari)

Kelima, (المحبة المنافية للبغض والكراهة) didasari rasa cinta yang menghilangkan kebencian dan rasa tidak suka.

Maknanya adalah bahwa syahadatain yang diucapkan harus benar-benar lahir dari keterpautan hati kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 165)

Keenam, (القبول المنافي للرد) didasari dengan rasa penerimaan yang menghilangkan penolakan.

Syahadatain yang diucapkan juga harus diiringi rasa penerimaan terhadap segala makna yang terkandung di dalamnya. Jadi seorang muslim harus menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan tanpa menolaknya.

Allah menceritakan keadaan orang kafir Quraisy yang tidak mau menerima dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘la ilaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’” (QS. As Shaffat, 37: 35-36)

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

« مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ » .

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalan orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh, (الإنقياد المنافي للإمتناع والترك وعدم العمل)

Syahadatain harus didasari dengan rasa kepatuhan (terhadap konsekuensi syahadat) yang menghilangkan sikap penolakan, menjauh, dan tidak mau beramal.

Syahadatain memiliki konsekuensi dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. Seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah Ta’ala serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman, 31: 22)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaranku.” (H.R. Thabrani).

Wallahu a’lam.

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'


Rabu, 25 Desember 2019

Pesan Tersirat Dari Gerhana Matahari Maupun Gerhana Bulan

Pesan Tersirat Dari GerhanaCyber Da'wah Aulia Media (CDAM)

Terjadinya gerhana, ternyata bukan sekedar fenomena alam biasa. Namun ada pesan tersirat yang diselipkan Sang Pencipta, pada peristiwa tersebut. Banyak yang tidak menyadari, ternyata gerhana adalah tanda-tanda yang Allah jadikan, sebagai peringatan untuk para hambaNya. Barangkali dosa-dosa yang sudah disepelekan, kelalaian yang akut, atau maksiat-maksiat lainnya yang sudah merajalela. Allah hendak mengingatkan melalui fenomena langka ini, kalau-kalau datang azab. Supaya manusia bertaubat, kembali takut kepadaNya. Juga supaya manusia menyadari, betapa maha kuasanya Allah, menjadikan siang yang tadinya terang benderang, tiba-tiba menjadi redup atau bahkan gelap gulita seperti halnya malam.

Sebagaimana diterangkan dalam Alquran, terkadang Allah mendatangkan musibah supaya manusia bertaubat dan menjadi pelajaran untuk mereka.

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al A’raf: 130).

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) memperhatikan bahwa mereka selalu ditimpa bencana sekali atau dua kali setiap tahun?! Namun mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran” (QS. At Taubah: 126).

Hanya saja gerhana bukan musibah. Ia adalah tanda atau peringatan, untuk menakut-nakuti dari sebuah petaka atau bala’.

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk segera sholat, istighfar, bersedekah, dan semangat melakukan amalan-amalan kebajikan saat terjadi gerhana.

Mari simak hadis dari Abu Musa al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berikut. Beliau mengatakan,

”Dahulu pernah terjadi gerhana Matahari (di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera berdiri dengan perasaan takut kalau terjadi kiamat. Kemudian beliau memasuki masjid untuk melakukan shalat; ruku’ dan sujud, dalam waktu yang amat panjang yang pernah aku lihat.

Setelah itu beliau bersabda,

هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini (yakni gerhana, pent), tidaklah terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun Allah hendak menakut-nakuti para hamba-Nya dengannya. Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan istighfar (memohon ampun) kepada-Nya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan dari hadis ini,

فيه الندب إلى الاستغفار عند الكسوف وغيره لأنه مما يدفع به البلاء

Hadits di atas terdapat anjuran untuk beristighfar ketika terjadi gerhana, atau yang lainnya. Karena istighfar adalah diantara sebab untuk menolak bala‘.” (Fathul Bari, 2/546)

Syaikh Ibnu Baz mengatakan,

وما يقع من خسوف وكسوف في الشمس والقمر ونحو ذلك مما يبتلي الله به عباده هو تخويف منه سبحانه وتعالى وتحذير لعباده من التمادي في الطغيان، وحث لهم على الرجوع والإنابة إليه

Kejadian gerhana bulan atau matahari, atau fenomena yang semisalnya, merupakan ujian Allah untuk hamba-hambaNya. Yaitu untuk menimbulkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan peringatan kepada mereka dari berlarut-larut dalam kemaksiatan. Dan supaya mendorong mereka untuk kembali ke jalan Allah” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 9/157).

Sampai-sampai diceritakan oleh para sahabat, bagaimana ekspresi takut beliau –shallallahu alaihi wa sallam– ketika terjadi gerhana kala itu,

فأخطأ بدرع حتى أُدرِك بردائه بعد ذلك

Sampai-sampai beliau keliru mengambil selendang salah satu istri beliau, kemudian setelah sadar, beliau mengenakan selendangnya” (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan makna perkataan di atas,

لشدة سرعته واهتمامه بذلك أراد أن يأخذ رداءه فأخذ درع بعض أهل البيت سهوا ولم يعلم ذلك لاشتغال قلبه بأمر الكسوف

Karena saking buru-burunya dan konsentrasi beliau tertuju pada fenomena gerhana tersebut. Yakni beliau hendak mengambil selendangnya, namun ternyata yang keambil selendang milik sebagian istri beliau. Karena tidak sadar, disebabkan hati beliau disibukkan dengan peristiwa gerhana” (Al Minhaj 6/212).

Maka dari itu, gerhana bagi seorang mukmin selayaknya menimbulkan rasa takut, membuatnya berfikir akan adzab Allah, dan menyadarkan dirinya untuk segera bertaubat. Bukan ajang untuk hiburan, sekedar tontonan atau menganggapnya sebatas fenomena alam biasa; yang lumrah terjadi.

Imam Ibnu Kastir menasehatkan, ketika menafsirkan ayat, “Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) memperhatikan bahwa mereka selalu ditimpa bencana sekali atau dua kali setiap tahun?! Namun mereka tidak (juga) mau bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.” (QS. At Taubah: 126).

Beliau mengatakan,

فالمؤمن من يتفطَّن لما ابتلاه الله به من الضرَّاء والسرَّاء، ولهذا جاء في الحديث: ((لا يزال البلاءُ بالمؤمن حتى يخرج نقيًّا من ذنوبه))، والمنافق مثله كمثل الحمار لا يدري فيم ربطه أهله، ولا فيم أرسلوه، فلا يتَّعِظ إن أصيب، ولا إن أُعطي.

“Seorang yang mukmin, adalah yang berfikir / sadar saat Allah mendatangkan cobaan kepadanya, baik dengan kenikmatan atau musibah. Oleh karenya dalam sebuah hadis diterangkan, “Seorang mukmin selalu mendapatkan cobaan, sampai dia keluar dari alam dunia, bersih tanpa membawa dosa.” Adapun orang munafik, perumpaannya seperti keledai. Tidak sadar kalau sedang diikat tuannya, ketika diperintah, ketika mendapat musibah, dan ketika diberi” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir untuk ayat 95 dari surat Al A’raf).

Tentu kita tak ingin meniru orang munafik itu. Bersikap dan bertingkah sepertinya. Tidak mengambil pelajaran dari setiap kejadian. -Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat kemunafikan- .

Wallahua’lam bis shawab

Jakarta Al Ghoribiyyah Indonesia
Penulis:
Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'

Hukum Shalat Gerhana Matahari (Kusuf) Dan Gerhana Bulan (Khusuf)

* ILMU ISLAM
* FIQIH IBADAH

Tata Cara Shalat Gerhana Matahari, Gerhana Bulan Niat, dan Sunnah-Sunnahnya.


Fenomena gerhana matahari (kusufus syamsi) dan gerhana bulan (khusuful qamar) merupakan fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah swt. Shalat sunah gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan pada tahun kelima Hijriyah dan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada bulan Jumadal Akhirah.  

 وَشُرِعَتْ صَلَاةُ  كُسُوفِ الشَّمْسِ فِى السَّنَةِ الثَّانِيَّةِ مِنَ الْهِجْرَةِ وَصَلَاةُ خُسُوفِ الْقَمَرِ فِى السَّنَةِ الْخَامِسَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ فِى جُماَدَى الْأَخِرَةِ عَلَى الرَّاجِحِ 

“Shalat gerhana matahari disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada tahun kelima Hijriyah bulan Jumadal Akhirah,” (Lihat Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Hasyiyatus Syeikh Ibrahim al-Baijuri, Indonesia, Darul Kutub al-Islamiyyah, 1428 H/2007 M, juz I, halaman 434). Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum menjalankan shalat gerhana baik gerhana matahari maupun gerhana bulan adalah sunah mu`akkadah.   وَصَلَاةُ كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بِالْاِجْمَاعِ لَكِنْ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيَفَةَ يُصَلِّى لِخُسُوفِ الْقَمَرِ فُرَادَى وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ كَسَائِرِ النَّوَافِلِ

 “Menurut kesepakatan para ulama (ijma`) hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah sunah mu’akkadah. 
Akan tetapi menurut Imam Malik dan Abu Hanifah shalat gerhana bulan dilakukan sendiri-sendiri dua rakaat seperti shalat sunah lainnya,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz VI, halaman 106). Pendapat ini didasarkan pada firman Allah swt dan salah satu hadits Nabi saw. Allah ta’ala berfirman,   وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ “Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 
37).   إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ 
وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا

 “Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,” (HR Bukhari-Muslim). Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut, 

1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu. 

2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.

 3. Sebelum shalat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,”As-Shalâtu jâmi'ah.” 

4. Niat melakukan shalat gerhana matahari (kusufus syams) atau gerhana bulan (khusuful qamar), menjadi imam atau ma’mum. 

  أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ
 اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى 

5. Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat. 6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku’ dan dua kali sujud. 7. Setelah ruku’ pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan surat kembali. 8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua, bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua. 
9. Setelah shalat disunahkan untuk berkhotbah. Hal yang sebaiknya diperhatikan adalah dalam soal ruku’nya. Ruku’ yang pertama dalam rakaat pertama lebih panjang dari yang kedua. Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab fikih madzhab Syafi’i, pada ruku’ pertama membaca tasbih kira-kira lamanya sama dengan membaca seratus ayat surat Al-Baqarah, sedang ruku’ kedua kira-kira delapan puluh ayat. Begitu seterusnya dalam rakaat kedua. Untuk ruku’ pertama pada rakaat kedua membaca tasbih lamanya kira-kira sama dengan membaca tujuh puluh ayat surat Al-Baqarah, dan ruku’ keduanya kira-kira lamanya sama dengan membaca lima puluh ayat. 
Mengenai sujud memang ada yang mengatakan tidak perlu lama. Tetapi pendapat ini menurut Muhammad az-Zuhri al-Ghamrawi pendapat yang sahih adalah pendapat yang menyatakan bahwa sujud juga lama. Pertanyaanya, berapa lamanya sujud? Jawaban yang tersedia adalah lamanya kira sama seperti lamanya ruku’. Dengan kata lain, sujud pertama dalam rakaat pertama membaca tasbih lamanya kira-kira seratus ayat surat Al-Baqarah dan untuk sujud kedua kira-kira lamanya sama dengan membaca delapan puluh ayat. Sedang sujud pertama dalam rakaat kedua lamanya kira-kira sama dengan membaca tujuh puluh ayat surat Al-Baqarah, dan sujud kedua dalam rakaat kedua lamanya sama dengan membaca lima puluh ayat. Di samping itu bacaan surat dalam shalat sunah gerhana matahari boleh dipelankan, boleh juga dikeraskan, tetapi disunahkan pelan. Dalam shalat gerhana tidak ada adzan dan iqamah.

   وَيُسَبِّحُ فِي الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ قَدْرَ مِائَةٍ مِنَ الْبَقَرَةِ وَفِي الثَّانِي ثَمَانِينَ وَالثَّالِثِ سَبْعِينَ وَالرَّابِعِ خَمْسِينَ تَقْرِيبًا  فِي الْجَمِيعِ وَلَا يَطُولُ السَّجَدَاتِ فِي الْأَصَحِّ قُلْتُ الصَّحِيحُ تَطْوِيلُهَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَنَصَّ فِي الْبُوَيْطِىُّ أَنَّهُ يَطُولُهَا نَحْوَ الرُّكُوعِ الَّذِي قَبْلَهَا وَاللهُ أَعْلَمُ فَالسُّجُودِ الْأَوَّلِ كَالرُّكُوعِ الْأَوَّلِ وَهَكَذَاوَتُسَنُّ جَمَاعَةٌ أَىْ تُسَنُّ الْجَمَاعَةُ فِيهَا وَيُنَادَى لَهَااَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ وَيَجْهَرُ بِقِرَاءَةِ كُسُوفِ الْقَمَرِ لَا الشَّمْسِبَلْ يُسِرُّ فِيهَا لِأَنَّهَا نَهَارِيَّةٌ 

“Bertasbih dalam ruku’ pertama kira-kira lamanya seperti lamanya membaca seratus ayat dari surat Al-Baqarah, ruku’ kedua delapan puluh ayat, ketiga tujuh puluh ayat dan keempat lima puluh ayat. 
Saya berpendapat bahwa pendapat yang sahih adalah memanjangkan sujud sebagaimana dalam hadits sahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dan pendapat imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Al-Buwaithi bahwa ia memanjangkan sujud seperti memanjangkan ruku’ yang sebelum sujud. Wallahu a’lam. Karenanya, sujud yang pertama itu panjangnya seperti ruku’ yang pertama begitu seterusnya. Shalat gerhana matahari sunah dilaksanakan secara berjamaah dan diseru dengan ungkapan ash-shalâtu jâmi’ah. Disunahkan meninggikan suara ketika membaca surat dalam shalat gerhana bulan, bukan gerhana matahari bahkan memelankan bacaan suratnya karena shalat gerhana matahari merupakan shalat sunah yang dilakukan siang hari,” (Lihat Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi, As-Sirajul Wahhaj, Beirut, Darul Ma’rifah, tt, 98). Setelah selesai shalat, dilanjutkan dengan dua khutbah sebagaimana khotbah Jumat. Namun jika shalat sunah gerhana matahari dilakukan sendirian, tidak perlu ada khotbah. Begitu juga jika semua jamaahnya adalah perempuan. Tetapi jika ada salah satu dari perempuan tersebut yang berdiri untuk memberikan mauidlah tidak ada masalah (la ba’sa bih).

   (وَيَخْطُبُ الْإِمَامُ) أَيْ أَوْ نَائِبُهُ وَتُخْتَصُّ الْخُطْبَةُ بِمَنْ يُصَلِّي جَمَاعَةً مِنَ الذُّكُورِ فَلَا خُطْبَةَ لِمُنْفَرِدٍ وَلَا لِجَمَاعَةِ النِّسَاءِ فَلَوْ قَامَتْ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ وَوَعَظَتْهُنَّ فَلَا بَأْسَ بِهِ كَمَا فِى خُطْبَةِ الْعِيدِ 

“Kemudian imam berkhotbah atau orang yang menggantikan imam. Khotbah dikhususkan bagi orang laki-laki yang yang mengikuti shalat tersebut secara jamaah. Karenanya, tidak ada khutbah bagi orang yang shalat sendirian juga bagi jamaah perempuan, (akan tetapi, pent) jika salah satu dari Jama'ah perempuan berdiri dan memberikan mauidlah, tidak apa-apa sebagaimana dalam khotbah shalat ‘ied,” (Lihat Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatus Syeikh Ibrahim Al-Baijuri, Indonesia, Darul Kutub Al-Islamiyyah, 1428 H/2007 M, juz I, halaman 438).
gerhana matahari
Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM

Hukum Shalat Gerhana

Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda kebesaran-Nya. Ketika terjadi gerhana, Islam mensyariatkan shalat gerhana.

وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 37)

Syaikh Wahbah az Zuhaili ketika menafsirkan ayat ini dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, yakni melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana.


Sholat gerhana matahari dalam bahasa Arab biasa disebut dengan kusufus syams. Sholat ini baru disyariatkan pada tahun 5 Hijriah. Hukum melaksanakan sholat ini adalah sunah muakadah atau sunah yang sangat dianjurkankan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW.

Matahari dan matahari itu sungguh merupakan tanda kekuasaan Allah. Karena itu, gerhana matahari maupun matahari itu bukan tanda kematian seseorang atau kehidupan seseorang. Ketika kalian melihat terjadi gerhana, maka sholat dan berdoalah sampai fenomena alam itu selesia. (HR Muslim)

Sholat gerhana berjumlah dua rakaat dan dianjurkan dilakukan berjamaah. Dalam setiap rakaat, sholat ini terdapat dua kali bacaan surah dan dua kali ruku’. 

Waktu sholat gerhana dimulai ketika mulai terjadi fenomena alam tersebut yang diumumkan oleh lembaga astronomi pemerintah maupun non-pemerintah. Berakhirnya waktu sholat gerhana matahari ini ketika posisi matahari sudah tampak normal kembali seperti biasanya, sudah kembali terang dan tidak gelap. Bacaan sholat sunah gerhana matahari disunahkan sir, dibaca pelan sebagaimana saat sholat Zuhur atau Asar.

  1. Niat Sholat Gerhana Matahari bagi Imam/Makmum

أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّه تعالى

Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini imaman lillahi ta’ala


أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْماً لِلّه تعالى

Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala

  1. Takbiratul Ihram

Di sini, makmum mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu akbar. Makmum melakukan takbiratul ihram setelah imam melakukannya.

  1. Bersedekap dan Membaca Doa Iftitah

Setelah takbir, imam dan makmum menyedekapkan kedua tangannya di bagian perut dan atas pusar sambil membaca doa iftitah berikut.

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .


  1. Membaca Surah Alfatihah

Dalam sholat sunah gerhana matahari, imam dianjurkan membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an secara sir atau dipelankan bacaannya seperti saat sholat Zuhur atau Asar. Karena itu, imam dan makmum membaca surah Alfatihah sendiri-sendiri.

Surah Alfatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١

الْحَمْدُلله رب العالمين ٢

 الرحمنالرَّحِيمِ ٣

 مَالِكِ يوم الدين ٤

 إِيَّاكَ نعبد واياك نستعين٥

 اهدناالصراط المستقيم٦

صِرَاطَ الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضآلين ٧


  1. Membaca Surah

Saat imam diperkirakan sudah selesai membaca surah Alfatihah, makmum juga dianjurkan membaca surah salah satu surah dalam Al-Qur’an.

  1. Ruku’ Pertama

Selesai membaca surah dalam Al-Qur’an, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.

Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 100 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 5 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.

سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.


  1. Berdiri

Setelah selesai membaca tasbih pada ruku’ pertama, bangunlah kembali sambil mengangkat kedua tangan hingga telinga dan mengucapkan allahu akbar.

  1. Membaca Alfatihah dan Surah Al-Qur’an

Setelah berdiri tegak, bacalah Alfatihah kembali, dan diikuti bacaan surah dalam Al-Qur’an., seperti surah Al-Zalzalah.


  1. Ruku’ Kedua

Selesai membaca surah Alzalzalah, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.

Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 80 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 3 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.

سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.


Subhanalloh walhamdulillah walailaha illohhu wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzhim.

  1. I’tidal

Setelah selesai ruku’ kedua, kemudian bangkit tegak dengan mengangkat kedua tangan setinggi telinga sambil membaca zikir i’tidal berikut:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهْ

Sami‘allahu li man hamidah

Setelah tegak dalam keadaan I’tidal, bacalah doa berikut.

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Robbana lakal hamdu mil’us samawati wa milul ardhi wa mil’u ma syi’ta min syain ba’du

Selesai i’tidal lalu sujud dengan cara meletakkan dahi pada sajadah. Ketika turun dari berdiri I’tidal ke sujud dianjurkan sambil membaca allahu akbar, dan saat sudah sujud dianjurkan membaca doa berikut:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلىَ وَبِحَمْدِهْ

Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)

  1. Duduk di Antara Dua Sujud

Setelah sujud lalu bangunlah sambil membaca allahu akbar untuk duduk, dan saat duduk dianjurkan membaca doa berikut:

رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنيِ وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي

Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu ‘anni

  1. Sujud Kedua

Setelah selesai melakukan duduk di antara dua sujud, lakukanlah sujud sambil membava allahu akbar, dan saat sudah sujud membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهْ

Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)

  1. Rakaat Kedua

Setelah selesai sujud kedua, kembali berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua sambil membaca allahu akbar. Praktik pada rakaat kedua itu sama seperti rakaat pertama, yaitu terdiri atas dua kali berdiri, dua kali membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an, dua kali ruku’. Lakukanlah hal serupa pada rakaat kedua ini hingga sujud kedua.

  1. Tahiyat Akhir

Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah dengan kaki bersilang sambil membaca allahu akbar. Usahakan pantat menempel di alas sholat, dan kaki kiri dimasukkan ke bawa kaki kanan, jari-jari kaki kanan tetap menekan ke kiri alas sholat. Adapaun doa yang dibaca saat Tahiyat Akhir adalah sebagai berikut:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

  1. Salam

Selesai membaca tahiyat akhir, kemudian salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri sambil mebaca:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Assalamu’alaikum wa rohmatulloh

  1. Khotbah Gerhana Matahari

Khotbah gerhana matahari dilakukan sama sebagaimana khotbah sholat Jum'at, yaitu sebanyak dua kali khotbah. Namun, pada khotbah gerhana matahari, imam dianjurkan menyampaikan materi tentang tobat, anjuran bersedekah, dan melakukan perbuatan baik lainnya kepada para jamaah. Saat imam sedang khotbah, makmum dianjurkan untuk mendengarkan khotbah terlebih dahulu, dan tidak disarankan membubarkan diri sebelum imam selesai khotbah.


 Khutbah I 

 اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia,   Setiap orang di antara kita terutama yang hadir dalam majelis ini sudah mengimani bahwa keberadaan alam semesta ini beserta segenap isinya diciptakan oleh Allah SWT. Baik berupa struktur skala makro alam semesta mulai dari galaksi, gugusan bintang–gemintang hingga sistem keplanetan atau tata surya. Yang banyak di antaranya membutuhkan teleskop–teleskop raksasa dengan teknologi tercanggih yang ada pada saat ini agar bisa kita lihat. Banyak pula di antaranya yang berkas cahayanya membutuhkan waktu ratusan ribu tahun, jutaan tahun dan bahkan ratusan juta tahun untuk sampai di Bumi kita, di mata kita, meski melesat dengan kecepatan cahaya.

Demikian pula struktur skala mikro alam semesta yang melingkupi molekul, atom, proton, elektron hingga partikel–partikel ultrarenik lainnya. Yang semuanya tak bisa kita saksikan meski telah mengerahkan mikroskop–mikroskop dengan pembesaran terkuat yang ditopang teknologi tercanggih pada saat ini. Namun dapat kita rasakan dan manfaatkan gejala–gejala keberadaannya.   Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari Sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al–Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu. Apapun dan siapapun, baik yang sudah kita ketahui hingga saat ini maupun yang belum. 

Allah SWT menciptakan segala sesuatu adalah tak lain sebagai ayat atau tanda akan keberadaan–Nya. Dalam khazanah Islam telah lazim kita dengar tentang istilah ayat qauliyyah dan ayat kauniyyah. Yang pertama merujuk pada ayat–ayat berupa firman Allah dalam wujud al–Quran, sedangkan yang kedua mengacu pada ayat berupa ciptaan Allah SWT secara umum mencakup alam semesta beserta segenap isinya, termasuk diri manusia sendiri. Dalam Al–Qur’an dijelaskan: سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ 

Artinya : “Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda–tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri….” (QS Fushshilat:53)   Peristiwa Gerhana Matahari yang sedang terjadi saat ini, yang sedang kita saksikan saat ini, sesungguhnya juga tak lebih sebagai tanda atau ayat. Kita patut bersyukur mendapat kesempatan melewati momen–momen indah tersebut. Dan kita juga bersyukur pada saat ini memiliki pengetahuan lebih baik dalam Gerhana Matahari. Ilmu falak menunjukkan Gerhana Matahari terjadi akibat kesejajaran Matahari, Bulan dan Bumi dari perspektif tiga dimensi dengan Bulan berada di tengah-tengah keduanya. Kesejajaran itu adalah buah pergerakan Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Baik Bulan dan Bumi bergerak secara teratur mengikuti Sunnatullah.  

Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia,   Jika kita sering mendengar anjuran mengucapkan tasbih subhânallâh (Mahasuci Allah) kala berdecak kagum, maka sesungguhnya itu adalah manifestasi bahwa segala sesuatu, bahkan yang menakjubkan sekalipun, harus dikembalikan pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kita dianjurkan untuk seketika mengingat Allah dan menyucikannya dari godaan keindahan lain selain Dia. Bahkan, Allah sendiri mengungkapkan bahwa tiap sesuatu di langit dan di bumi telah bertasbih tanpa henti sebagai bentuk ketundukan kepada–Nya.   Dalam Surat al–Hadid ayat 1 disebutkan: سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ 

Artinya: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”   Sementara dalam Surat al–Isra ayat 44 dinyatakan:

 تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا 

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji–Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”   Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia,   Apa konsekuensi lanjutan saat kita mengimani, menyucikan dan mengagungkan Allah? Tidak lain adalah berintrospeksi betapa lemah dan rendah diri ini di hadapan Allah. Artinya, meningkatnya pengagungan kepada Allah berbanding lurus dengan menurunnya sikap takabur, angkuh atas kelebihan-kelebihan diri dalam aspek apapun.   Betapa kecilnya umat manusia dapat dilihat dari kajian ilmu pengetahuan modern. Galaksi Bima Sakti kita, hanyalah satu dari miliaran galaksi yang menyusun alam semesta ini. Tata surya kita hanyalah satu dari milyaran sistem keplanetan dalam galaksi Bima Sakti kita. Bahwa planet Bumi kita pun tidak ada apa-apanya dibandingkan misalnya planet Jupiter. Jika planet Bumi saja hanya sebintik debu di jagat raya, apalah artinya dengan kita manusia. Lebih menohok lagi bahwa segala hal yang membentuk galaksi dan bintang–bintang hingga sebutir debu dan virus, hanyalah bagian dari 4 % materi yang telah diketahui pada saat ini. 96 % sisanya sama sekali belum kita ketahui apa bentuknya dan sifat–sifatnya.   Keagungan Allah SWT yang dinyatakan dalam ayat-ayat kauniyah-Nya tersebut seharusnya mengarahkan kita pada ketakberdayaan diri. Sehingga memunculkan sikap merasa bersalah dan bergairah memperbanyak istighfar. Dalam peristiwa Gerhana Matahari ini pula kita dianjurkan untuk menyujudkan seluruh kebanggaan dan keagungan di luar Allah, sebab pada hakikatnya semuanya hanyalah tanda. Momen Gerhana Matahari juga menjadi wahana guna memperbanyak permohonan ampun, tobat, kembali kepada Allah sebagai muasal dan muara segala keberadaan. Semoga fenomena Gerhana Matahari kali ini meningkatkan kedekatan kita kepada Allah SWT, membesarkan hati kita untuk ikhlas menolong sesama, serta menjaga kita untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita. Wallahu a’lam. 

  بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم   Khutbah II    اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'

محمداوليآءحفيظ المجيد

Sabtu, 21 Desember 2019

Bacaan Sholawat Tarhim Arab, Latin, dan ArtinyaSupaya anda bisa mempelajari dan menghafalnya dengan mudah

 SHOLAWAT TARHIM

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM)

۞ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞

Ash-shalâtuwas-salâmu ‘alâyk

Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞

Yâ imâmal mujâhidîn yâ Rasûlallâh
duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulullah

۞ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ ۞

Yâ nâshiral hudâ yâ khayra khalqillâh
duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik

۞ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu

۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞

Yâ nâshiral haqqi yâ Rasûlallâh
Duhai penolong kebenaran, ya Rasulullah

۞ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞

Ash-shalâtu was-salâmu ‘alâyk
Shalawat dan salam semoga tercurahkan padamu

۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ ۞

Yâ Man asrâ bikal muhayminu laylan nilta mâ nilta wal-anâmu niyâmu
Wahai Yang Memperjalankanmu di malam hari, Dialah Yang Maha Melindungi, engkau memperoleh karunia sementara semua manusia tidur.

۞ وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ ۞

Wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kulu man fis-samâi wa antal imâmu
Semua penghuni langit melakukan shalat di belakangmu. dan engkau menjadi imam mereka.

۞ وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا ۞

Wa ilal muntahâ rufi’ta karîman
dan diberangkatkan ke Sidratul Muntaha karena kemuliaanmu.

۞ وَ سَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞

Wa sai’tan nidâ ‘alaykas salâm
dan engkau mendengar suara ucapan salam atasmu.

۞ يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَ عَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ ۞

Yâ karîmal akhlâq yâ Rasûlallâh Shallallâhu ‘alayka wa ‘alâ âlika wa ashhâbika ajma’în
Duhai yang paling mulia akhlaknya. Ya Rasulullah. Semoga shalawat selalu tercurahkan padamu. Serta atas keluargamu dan sahabatmu.

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'

Sholawat Ibrahimiyah dan Fadhilahnya

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM)


Sholawat Ibrahimiyah, makna dan keutamaannya

بسم اللٌه الرحمن الرحيم

Shalawat ini sangat terkenal. Bahkan setiap muslim pasti mengenal dan membacanya. Karena ia merupakan bacaan di dalam shalat, ketika tasyahud / tahiyat akhir. Namanya shalawat Ibrahimiyah. Berikut adalah lafadznya :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allaahumma sholli ‘alaa sayidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayidinaa Muhammad, kamaa shollayta ‘alaa sayidinaa Ibroohiim wa wa ‘alaa aali sayidinaa Ibroohiim. Wa baarik ‘alaa sayidinaa Muhammad wa ‘alaa aali sayidinaa Muhammad kamaa baarokta ‘alaa sayidinaa Ibroohiim wa ‘alaa aali sayidinaa Ibroohiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, pujian dan keagungan atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrohim. Dan limpahkanlah keberkahan atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah engkau limpahkan atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah di alam semesta.

Shalawat ini dikatakan sebagai shalawat dengan bentuk yang paling sempurna, riwayat yang kuat dan shahih, baik yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maupun yang datang dari para ulama. Oleh karenanya para ulama mengistimewakan bentuk shalawat ini, dan menempatkannya di tempat yang pertama.

Syaikh Ahmad Ash-Shawi menukil dari Imam Bukhari yang menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat ini, maka aku akan memberikan kesaksian padanya di hari kiamat dan aku akan menolong (memberi syafa’at) padanya”.

Ada pula yang mengatakan bahwa barangsiapa membaca shalawat ini sebanyak 1.000 kali, dipastikan ia bermimpi berjumpa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dengan tambahan Siyadah (Sayidina) atau tanpa Siyadah ?

Redaksi asal dalam hadits tentang shalawat ini tidak menyertakan sayidina. Karena waktu itu ada shahabat bertanya kepada Nabi mengenai ayat “Hai orang-orang yang beriman, bershalawat lah kepada Nabi dan sampaikan salam penghormatan padanya”

Sahabat itu bertanya “Wahai Nabi, kalau mengucap salam penghormatan, kami sudah mengerti (yakni dengan mengucap assalaamu’alaika ayyuhan Nabiy dan semacamnya), tapi bagaimana cara kami bershalawat?

Karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bershalawat itu artinya melimpahkan rahmat. Bagaimana mungkin kita melimpahkan rahmat kepada Nabi.

Kemudian Nabi menjawab : Katakan “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad dst”.

Perhatikan dan hayati bagaimana Nabi mengajarkan shalawat Ibrahimiyah ini kepada sahabat beliau ketika itu. Tidak mungkin Nabi mengatakan : “Allahumma shalli ‘alaa Sayidinaa Muhammad” ? Sama dengan Pak Karim yang rendah Hati tidak mungkin mengajari muridnya “Tolong doakan saya ya, Tuan Kita yang Mulia Kyai Haji Profesor Doktor Karim,,,”. Tidak mungkin.

Maka mayoritas ulama mengatakan lebih utama menambah Sayidina. Imam Ramli dalam Syarah Minhaj mengatakan, “Yang lebih utama adalah menambahkan siyadah (sayidina), karena tata krama kepada Nabi. Tata krama dalam ibadah lebih baik dilakukan daripada ditinggalkan”. Bahkan Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Menambahkan lafadz Sayidina merupakan tata krama terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, meskipun di dalam shalat fardlu”.

Dalam kisah berikut ini, kita menjadi tahu bahwa tata krama kepada Nabi sangat penting. Bahkan Sayidina Ali pernah tidak mau melaksanakan perintah Nabi karena tata krama kepada beliau. Pada sebuah perundingan, Kanjeng Nabi memerintahkan Ali menulis, “Perjanjian ini antara Muhammad Rasullah dan petinggi Makkah”.

Para petinggi Makkah menolak tulisan itu mereka berkata, “Jangan Muhammad Rasulullah. Kalau kami mengakui engkau Rasul, tidak perlu kita membuat perjanjian seperti ini !”. Tulis saja “Muhammad putera Abdullah”.

Sayidina Ali berkali kali disuruh oleh Rasul untuk menghapus tulisan Muhammad Rasulullah dan diganti menjadi Muhammad bin Abdillah, tapi beliau tidak mau, beliau tidak mau menghapus tulisan “Muhammad Rasulullah”. Hingga Nabi sendiri yang menghapusnya. Demikian tata krama para sahabat yang lahir dari sangat besarnya cinta dan penghormatan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pelarangan mengucap Sayidina sangat sulit diterima. Bagaimana mungkin para ahli hadits yang paling jadi rujukan seperti Imam Ibnu Hajar, Imam Ramli, Imam Syafi’i, Imam Nawawi dan sangat banyak lagi malah menganjurkan jika itu dilarang oleh Nabi, apakah berani para imam yang diikuti umat seluruh dunia berani menabrak hadits Nabi?

Nabi tidak mengucapkan bukan berarti beliau melarang. Karena beliau sendiri, ketika salah seorang sahabat yang menjadi pemimpin kaumnya datang, beliau berkata, “Berilah penghormatan untuk Sayid (pemimpin) kalian”. Insya Allah lebih luas, mengenai hal ini akan dituliskan dalam artikel yang lain.

Kembali kepada Shalawat Ibrahimiyah ini, saking utamanya shalawat ini, para ulama banyak berpendapat, jika engkau bernadzar / bersumpah akan membaca shalawat yang paling utama, maka sumpahmu gugur dengan membaca shalawat Ibrahimiyah ini. Karena inilah – salah satu – shalawat yang paling utama.

Wallahu A’lam

Penulis:

Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'