Tata Cara Shalat Gerhana Matahari, Gerhana Bulan Niat, dan Sunnah-Sunnahnya.
Hukum Shalat Gerhana
Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanda kebesaran-Nya. Ketika terjadi gerhana, Islam mensyariatkan shalat gerhana.
وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 37)
Syaikh Wahbah az Zuhaili ketika menafsirkan ayat ini dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, yakni melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana.
Sholat gerhana matahari dalam bahasa Arab biasa disebut dengan kusufus syams. Sholat ini baru disyariatkan pada tahun 5 Hijriah. Hukum melaksanakan sholat ini adalah sunah muakadah atau sunah yang sangat dianjurkankan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW.
Matahari dan matahari itu sungguh merupakan tanda kekuasaan Allah. Karena itu, gerhana matahari maupun matahari itu bukan tanda kematian seseorang atau kehidupan seseorang. Ketika kalian melihat terjadi gerhana, maka sholat dan berdoalah sampai fenomena alam itu selesia. (HR Muslim)
Sholat gerhana berjumlah dua rakaat dan dianjurkan dilakukan berjamaah. Dalam setiap rakaat, sholat ini terdapat dua kali bacaan surah dan dua kali ruku’.
Waktu sholat gerhana dimulai ketika mulai terjadi fenomena alam tersebut yang diumumkan oleh lembaga astronomi pemerintah maupun non-pemerintah. Berakhirnya waktu sholat gerhana matahari ini ketika posisi matahari sudah tampak normal kembali seperti biasanya, sudah kembali terang dan tidak gelap. Bacaan sholat sunah gerhana matahari disunahkan sir, dibaca pelan sebagaimana saat sholat Zuhur atau Asar.
- Niat Sholat Gerhana Matahari bagi Imam/Makmum
أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّه تعالى
Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini imaman lillahi ta’ala
أُصَلِّي سُنَّةّ كسُوْفِ الشمس رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْماً لِلّه تعالى
Usholli sunnata kusufis syamsi rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala
- Takbiratul Ihram
Di sini, makmum mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu akbar. Makmum melakukan takbiratul ihram setelah imam melakukannya.
- Bersedekap dan Membaca Doa Iftitah
Setelah takbir, imam dan makmum menyedekapkan kedua tangannya di bagian perut dan atas pusar sambil membaca doa iftitah berikut.
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .
- Membaca Surah Alfatihah
Dalam sholat sunah gerhana matahari, imam dianjurkan membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an secara sir atau dipelankan bacaannya seperti saat sholat Zuhur atau Asar. Karena itu, imam dan makmum membaca surah Alfatihah sendiri-sendiri.
Surah Alfatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١
الْحَمْدُلله رب العالمين ٢
الرحمنالرَّحِيمِ ٣
اهدناالصراط المستقيم٦
صِرَاطَ الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضآلين ٧
- Membaca Surah
Saat imam diperkirakan sudah selesai membaca surah Alfatihah, makmum juga dianjurkan membaca surah salah satu surah dalam Al-Qur’an.
- Ruku’ Pertama
Selesai membaca surah dalam Al-Qur’an, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.
Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 100 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 5 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.
سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.
- Berdiri
Setelah selesai membaca tasbih pada ruku’ pertama, bangunlah kembali sambil mengangkat kedua tangan hingga telinga dan mengucapkan allahu akbar.
- Membaca Alfatihah dan Surah Al-Qur’an
Setelah berdiri tegak, bacalah Alfatihah kembali, dan diikuti bacaan surah dalam Al-Qur’an., seperti surah Al-Zalzalah.
- Ruku’ Kedua
Selesai membaca surah Alzalzalah, lalu kedua tangan diangkat setinggi telinga dan membaca allahu akbar. Kemudian badan dibungkukkan, kedua tangan memegang lutut sambil ditekan. Usahakan antara punggung dan kepala supaya sejajar dan rata.
Setelah sempurna ruku’, disunahkan membaca tasbih sepanjang 80 ayat surah Al-Baqarah bila memungkinkan. Namun boleh juga hanya membaca tasbih selama 3 menit misalnya. Adapaun bacaan tasbihnya sebagai berikut.
سُبحَانَ اللهِ وَالحَمدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ اَكبَر وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيم.
Subhanalloh walhamdulillah walailaha illohhu wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil adzhim.
- I’tidal
Setelah selesai ruku’ kedua, kemudian bangkit tegak dengan mengangkat kedua tangan setinggi telinga sambil membaca zikir i’tidal berikut:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهْ
Sami‘allahu li man hamidah
Setelah tegak dalam keadaan I’tidal, bacalah doa berikut.
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Robbana lakal hamdu mil’us samawati wa milul ardhi wa mil’u ma syi’ta min syain ba’du
Selesai i’tidal lalu sujud dengan cara meletakkan dahi pada sajadah. Ketika turun dari berdiri I’tidal ke sujud dianjurkan sambil membaca allahu akbar, dan saat sudah sujud dianjurkan membaca doa berikut:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلىَ وَبِحَمْدِهْ
Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)
- Duduk di Antara Dua Sujud
Setelah sujud lalu bangunlah sambil membaca allahu akbar untuk duduk, dan saat duduk dianjurkan membaca doa berikut:
رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنيِ وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي
Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu ‘anni
- Sujud Kedua
Setelah selesai melakukan duduk di antara dua sujud, lakukanlah sujud sambil membava allahu akbar, dan saat sudah sujud membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهْ
Subhana rabbiyal a’la wa bi hamdih (3x)
- Rakaat Kedua
Setelah selesai sujud kedua, kembali berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua sambil membaca allahu akbar. Praktik pada rakaat kedua itu sama seperti rakaat pertama, yaitu terdiri atas dua kali berdiri, dua kali membaca Alfatihah dan surah Al-Qur’an, dua kali ruku’. Lakukanlah hal serupa pada rakaat kedua ini hingga sujud kedua.
- Tahiyat Akhir
Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah dengan kaki bersilang sambil membaca allahu akbar. Usahakan pantat menempel di alas sholat, dan kaki kiri dimasukkan ke bawa kaki kanan, jari-jari kaki kanan tetap menekan ke kiri alas sholat. Adapaun doa yang dibaca saat Tahiyat Akhir adalah sebagai berikut:
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
- Salam
Selesai membaca tahiyat akhir, kemudian salam dengan menengok ke kanan dan ke kiri sambil mebaca:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Assalamu’alaikum wa rohmatulloh
- Khotbah Gerhana Matahari
Khotbah gerhana matahari dilakukan sama sebagaimana khotbah sholat Jum'at, yaitu sebanyak dua kali khotbah. Namun, pada khotbah gerhana matahari, imam dianjurkan menyampaikan materi tentang tobat, anjuran bersedekah, dan melakukan perbuatan baik lainnya kepada para jamaah. Saat imam sedang khotbah, makmum dianjurkan untuk mendengarkan khotbah terlebih dahulu, dan tidak disarankan membubarkan diri sebelum imam selesai khotbah.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia, Setiap orang di antara kita terutama yang hadir dalam majelis ini sudah mengimani bahwa keberadaan alam semesta ini beserta segenap isinya diciptakan oleh Allah SWT. Baik berupa struktur skala makro alam semesta mulai dari galaksi, gugusan bintang–gemintang hingga sistem keplanetan atau tata surya. Yang banyak di antaranya membutuhkan teleskop–teleskop raksasa dengan teknologi tercanggih yang ada pada saat ini agar bisa kita lihat. Banyak pula di antaranya yang berkas cahayanya membutuhkan waktu ratusan ribu tahun, jutaan tahun dan bahkan ratusan juta tahun untuk sampai di Bumi kita, di mata kita, meski melesat dengan kecepatan cahaya.
Demikian pula struktur skala mikro alam semesta yang melingkupi molekul, atom, proton, elektron hingga partikel–partikel ultrarenik lainnya. Yang semuanya tak bisa kita saksikan meski telah mengerahkan mikroskop–mikroskop dengan pembesaran terkuat yang ditopang teknologi tercanggih pada saat ini. Namun dapat kita rasakan dan manfaatkan gejala–gejala keberadaannya. Semuanya adalah makhluk Allah dan tak satu pun yang lepas dari Sunnatullah. Inilah makna Allah sebagai Rabbul ‘âlamîn, pemilik sekaligus penguasa dari seluruh keberadaan; al–Khâliqu kulla syaî’, pencipta segala sesuatu. Apapun dan siapapun, baik yang sudah kita ketahui hingga saat ini maupun yang belum.
Allah SWT menciptakan segala sesuatu adalah tak lain sebagai ayat atau tanda akan keberadaan–Nya. Dalam khazanah Islam telah lazim kita dengar tentang istilah ayat qauliyyah dan ayat kauniyyah. Yang pertama merujuk pada ayat–ayat berupa firman Allah dalam wujud al–Quran, sedangkan yang kedua mengacu pada ayat berupa ciptaan Allah SWT secara umum mencakup alam semesta beserta segenap isinya, termasuk diri manusia sendiri. Dalam Al–Qur’an dijelaskan: سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda–tanda (ayat) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri….” (QS Fushshilat:53) Peristiwa Gerhana Matahari yang sedang terjadi saat ini, yang sedang kita saksikan saat ini, sesungguhnya juga tak lebih sebagai tanda atau ayat. Kita patut bersyukur mendapat kesempatan melewati momen–momen indah tersebut. Dan kita juga bersyukur pada saat ini memiliki pengetahuan lebih baik dalam Gerhana Matahari. Ilmu falak menunjukkan Gerhana Matahari terjadi akibat kesejajaran Matahari, Bulan dan Bumi dari perspektif tiga dimensi dengan Bulan berada di tengah-tengah keduanya. Kesejajaran itu adalah buah pergerakan Bulan mengelilingi Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Baik Bulan dan Bumi bergerak secara teratur mengikuti Sunnatullah.
Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia, Jika kita sering mendengar anjuran mengucapkan tasbih subhânallâh (Mahasuci Allah) kala berdecak kagum, maka sesungguhnya itu adalah manifestasi bahwa segala sesuatu, bahkan yang menakjubkan sekalipun, harus dikembalikan pada keagungan dan kekuasaan Allah. Kita dianjurkan untuk seketika mengingat Allah dan menyucikannya dari godaan keindahan lain selain Dia. Bahkan, Allah sendiri mengungkapkan bahwa tiap sesuatu di langit dan di bumi telah bertasbih tanpa henti sebagai bentuk ketundukan kepada–Nya. Dalam Surat al–Hadid ayat 1 disebutkan: سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Sementara dalam Surat al–Isra ayat 44 dinyatakan:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji–Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” Jamaah shalat Gerhana Matahari yang berbahagia, Apa konsekuensi lanjutan saat kita mengimani, menyucikan dan mengagungkan Allah? Tidak lain adalah berintrospeksi betapa lemah dan rendah diri ini di hadapan Allah. Artinya, meningkatnya pengagungan kepada Allah berbanding lurus dengan menurunnya sikap takabur, angkuh atas kelebihan-kelebihan diri dalam aspek apapun. Betapa kecilnya umat manusia dapat dilihat dari kajian ilmu pengetahuan modern. Galaksi Bima Sakti kita, hanyalah satu dari miliaran galaksi yang menyusun alam semesta ini. Tata surya kita hanyalah satu dari milyaran sistem keplanetan dalam galaksi Bima Sakti kita. Bahwa planet Bumi kita pun tidak ada apa-apanya dibandingkan misalnya planet Jupiter. Jika planet Bumi saja hanya sebintik debu di jagat raya, apalah artinya dengan kita manusia. Lebih menohok lagi bahwa segala hal yang membentuk galaksi dan bintang–bintang hingga sebutir debu dan virus, hanyalah bagian dari 4 % materi yang telah diketahui pada saat ini. 96 % sisanya sama sekali belum kita ketahui apa bentuknya dan sifat–sifatnya. Keagungan Allah SWT yang dinyatakan dalam ayat-ayat kauniyah-Nya tersebut seharusnya mengarahkan kita pada ketakberdayaan diri. Sehingga memunculkan sikap merasa bersalah dan bergairah memperbanyak istighfar. Dalam peristiwa Gerhana Matahari ini pula kita dianjurkan untuk menyujudkan seluruh kebanggaan dan keagungan di luar Allah, sebab pada hakikatnya semuanya hanyalah tanda. Momen Gerhana Matahari juga menjadi wahana guna memperbanyak permohonan ampun, tobat, kembali kepada Allah sebagai muasal dan muara segala keberadaan. Semoga fenomena Gerhana Matahari kali ini meningkatkan kedekatan kita kepada Allah SWT, membesarkan hati kita untuk ikhlas menolong sesama, serta menjaga kita untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita. Wallahu a’lam.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis:
Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied Lc'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar