Kamis, 11 Juli 2019

Fiqih Islam (Doa Khitan)


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين

اَللهم وَفِّقْنَا  ِلاجْتِلاَبِ الْفَضَائِلِ وَجَنِّبْنَا مِنْ اِقْتِرَاحِ الرَّذَائِلِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اَعْذَارَنَا وَسَلِّمْ اُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ مَخْتُوْنَنَا وَاقْضِ دُيُوْنَنَا وَبَلِّغْ اَمَالَنَا وَوَسِّعْ اَرْزَاقَنَا وَجُوْدِكَ يَاجَوَّادُ. اَللهم اِنَّا نَسْئَلُكَ السَّلاَمَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْغُزَاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ مِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَجْمَعِيْنَ فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ اِنَّكَ عَلى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ يَا نِعْمَ الْمَوْلى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Ya Allah, berilah kami pertolongan untuk memperoleh keutamaan-keutamaan, dan jauhkan kami dari melakukan hal-hal yang hina. Ya Allah, terimalah khitan kami, selamatkanlah urusan-urusan kami, sembuhkanlah dari sakit (karena khitan) ini, bayarkanlah hutang-hutang kami, jadikanlah (kenyataan) cita-cita kami, lapangkanlah rezeki kami dengan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Memberi.

Penjelasan do'a ketika anak dikhitan

Sumber:
Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied (MAHA)

Khitan merupakan salah satu syariat Islam yang sangat dianjurkan. Khitan disyariatkan dalam Islam bertujuan menjaga agar kotoran yang ada di saluran air kencing. Di samping itu, ketika bersuci dapat bersih secara sempurna.

Khitan sudah dikenal sejak zaman nabi Ibrahim. Pada zaman nabi Ibrahim, seseorang melakukan khitan setelah berumur 80 tahun.

Dalam kitab Fiqh Sunnah menukil hadis yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah perihal tradisi khitan di zaman nabi Ibrahim.

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ ثَمَانِينَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُومِ

Ibrahim berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan al-Qodum.” (HR. Bukhari)

Berkhitan atau sunat dalam bahasa Indonesia, adalah memotong kulit yang menutupi ujung dzakar bagi laki-laki dan memotong kulit bagian atas bagi perempuan. Sayid Sabiq menjelaskan pada masa nabi Ibrahim alat yang digunakan untuk memotong kulit tersebut dengan mengunakan al-qadum.

Al-Qadum, adalah alat yang digunakan untuk memotong kayu. Mungkin kalau di Indoesia bentuknya seperti kampak. Hal itu wajar karena seseorang disunat pada zaman nabi Ibrahim sudah menginjak usia delapan puluh tahun.

Berebeda dengan tradisi di Indonesia. Seseorang sudah disunat ketika masih anak-anak. Bahkan, ada yang berusia 2-3 tahun sudah dikhitan. Terlebih lagi hari ini teknologi semakin canggih. Tidak sampai seminggu setelah dikhitan, sudah sembuh seperti sediakala.

Ketika anak-anak hendak dikhitan, terlebih dahulu mengucapkan do'a khitan agar prosesi khitan berjalan lancar dan baik. Berikut doa ketika anak dikhitan:

Shalawat Termasuk Ibadah yang Utama
Doa Ketika Anak Dikhitan
Bacaan Doa Setelah Adzan dan Iqomah dalam Bahasa Arab

اَللهم وَفِّقْنَا  ِلاجْتِلاَبِ الْفَضَائِلِ وَجَنِّبْنَا مِنْ اِقْتِرَاحِ الرَّذَائِلِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اَعْذَارَنَا وَسَلِّمْ اُمُوْرَنَا وَصَحِّحْ مَخْتُوْنَنَا وَاقْضِ دُيُوْنَنَا وَبَلِّغْ اَمَالَنَا وَوَسِّعْ اَرْزَاقَنَا وَجُوْدِكَ يَاجَوَّادُ. اَللهم اِنَّا نَسْئَلُكَ السَّلاَمَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْغُزَاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ مِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَجْمَعِيْنَ فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ اِنَّكَ عَلى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ يَا نِعْمَ الْمَوْلى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

“Ya Allah, berilah kami pertolongan untuk memperoleh keutamaan-keutamaan, dan jauhkan kami dari melakukan hal-hal yang hina. Ya Allah, terimalah khitan kami, selamatkanlah urusan-urusan kami, sembuhkanlah dari sakit (karena khitan) ini, bayarkanlah hutang-hutang kami, jadikanlah (kenyataan) cita-cita kami, lapangkanlah rezeki kami dengan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Memberi.
Ya Allah, semoga Engkau memberi keselamatan kepada kami, kepada orang-orang yang beribadah haji, kepada orang-orang yang berperang (di jalan Allah), dan kepada para musafir, dari  semua umat Muhammad SAW yang ada di darat maupun di laut.
Sesungguhnya Engkau berkuasa terhadap apa yang Engkau kehendaki, wahai sebaik-baik tuan dan sebaik-baik penolong. Maha Suci Allah, Tuhan yang memiliki kesucian dari segala sifat rendah yang mereka (orang kafir) lekatkan.
Dan kesejahteraan bagi para utusan Allah, dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.”

Penulis:
Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied
(MAHA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar